NEWS

Ramaditya Bukan Plagiator!

Conny   |   Jumat, 20 Aug 2010

KotGa kali ini ngulas mengenai sosok yang lagi ramai-ramainya dibicarakan di ibukota. Bukan, bukan Ruhut Sitompul, sih. ^^; Lebih kepada sosok yang belakangan lekat karena aksi kebohongannya di dunia game tanah air. Tidak lain, tidak bukan. Adalah Eko Ramaditya Adikara, sodara-sodara. Jreeeng (ceritanya sound effect, bukan bunyi penggorengan).

Bukan plagiat, bukan sihir. Eh? Sorry, kru KotGa agak stress belakangan ini. Selain banyak kerjaan, banyak event, dan banyak liputan. Ternyata situs kesayangan Kotakers ini juga banyak hujatan. ^^; Beberapa penghuni dunia maya kurang berkenan dengan langkah-langkah yang diambil KotGa mengenai sosok yang lebih dikenal sebagai Rama itu. Btw, kenapa tujuannya berita, malah jadi curhat colongan, ya?

Mari kita kembali lagi ke kata plagiat. Kenapa KotGa mengangkat kata ini? Karena Rama, seperti KotGa lansir dari berita-berita yang dimunculkan di beberapa media tanah air baru-baru ini, diungkapkan melakukan tindakan plagiat. Kata plagiat ini sebenarnya bentuk umum dari plagiarisme. Plagiarisme sendiri adalah penjiplakan atau pengambilan hasil karya, opini, pendapat, dan sebagainya dari orang lain yang kemudian dijadikannya seolah sebagai hasil karya, opini, atau pendapat sendiri.

Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator. Nah, dari kutipan KotGa atas definisi tersebut dari berbagai sumber, maka apa yang dilakukan Rama sejak sekitar 10 tahun lalu adalah bukan tindakan plagiat. Didorong kebiasaannya yang cepat dalam menghafal iringan musik atas game yang dimainkannya, dan kemudian menirukan iringan musik itu kembali dengan sulingnya, maka Rama mengawali kiprahnya untuk membohongi publik.

Awalnya sebuah majalah game ibukota yang mengangkat dirinya sebagai seorang tuna netra yang menghasilkan karya musik bagi industri game Jepang melalui alunan sulingnya. Kemudian, impact terbesar adalah tampilnya penyuka kelompok Jedi dari serial Star Wars ini dalam sebuah talkshow yang disiarkan oleh salah satu stasiun TV swasta yang terkemuka dalam hal pemberitaan. Dengan piawainya, Rama mengakui soundtrack beberapa game Jepang merupakan hasil karyanya. Dengan demikian, sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh Rama lebih dapat digolongkan sebagai suatu bentuk pembohongan publik.

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Rama pun meraih popularitas berkat "kekurangan" sekaligus "kelebihan" yang diungkapnya. Namun, langkah Rama akhirnya tersandung saat meluncurkan sebuah album "hasil karya"-nya bertajuk "Lima Bidadari". Kenapa KotGa banyak memakai tanda petik? Karena semua kata tersebut bersifat ambigu, tak ada yang sungguh asli sejatinya. Semua terungkap saat CD album tersebut diputar oleh seorang pembelinya dengan Media Player di PC.

Dikarenakan PC tersebut sedang terkoneksi ke internet, maka tak pelak isi CD tersebut dikenali sesuai CDDB (Compact Disc Data Base) sebagai isi dari sebuah album soundtrack atas game Zwei! FYI, CDDB adalah semacam fitur dari Media Player yang akan mengenali secara aktif, khususnya jika sedang online, isi & informasi apa pun terkait CD yang diputar dengan aplikasi ini.

Plagiarisme? Bukan, yang dilakukan Rama -adalah- menggandakan album soundtrack Zwei dan melakukan rename (menamai kembali), atau bisa dikatakan membungkus kembali album tersebut, yang sejatinya adalah soundtrack Zwei, sebagai "Lima Bidadari". Ini tidak bisa diartikan sebagai sebuah tindakan plagiarisme karena sesungguhnya proses kreatif yang dilakukan Rama adalah mengubah judul-judul lagu dalam album tersebut dengan tanpa menghasilkan karya apa pun dari benaknya.

Untuk sementara, kru KotGa menyudahi tulisan ini. Nantikan berita selanjutnya mengenai sosok Rama di situs kesayangan Kotakers ini!

(KotakGame)
Jika ingin mengirim artikel, kerjasama event dan memasang Iklan (adverstisement) bisa melalui email redaksi[at]kotakgame.com atau Hotline (021) 93027183