Efek 3D yang ditimbulkan oleh perangkat ini kurang terasa karena terbatasnya bidang penglihatan dan gambar yang kelewat kecil, tetapi secara garis besar masih masuk ke kategori stereo atau 3D.

View Master
Upgrade berikutnya untuk metode
side by side adalah HMD (
head mounted display). Metode yang dipakai masih sama dengan
side by side, tetapi bedanya gambar-gambar yang ada di dalam HMD akan ikut bergerak sesuai dengan gerakan kepala bila HMD memiliki
motion tracker. HMD pertama yang lahir di tahun 90-an masih sangat mahal, berat, tidak praktis serta beresiko merusak kesehatan mata.
Seiring dengan berjalannya waktu, teknologi HMD semakin mengecil, tidak berbahaya dan murah. Sampai saat ini teknologi HMD masih dikembangkan dan dimanfaatkan secara luas termasuk militer. Untuk kalangan yang terakhir, HMD banyak dipakai untuk melatih calon-calon pilot sebelum mereka menerbangkan pesawat sungguhan.
Bahkan heli tempur AH-64 Apache memiliki sistem penguncian target yang memiliki konsep HMD bertajuk IHADSS (Integrated Helmet And Display Sight System). Hanya dengan memandang targetnya pilot bisa mengunci target dan menembakkan senjata yang telah dipilih. Semua HMD yang dipakai oleh militer tidak memiliki efek 3D supaya sang pengguna tidak mengalami disorientasi jarak dan ukuran. Betul juga yah,
wong mereka mau perang bukan mau ngegame.

IHADSS
Kacamata 3D
Metode kacamata 3D terbagi menjadi dua golongan metode. Metode pertama adalah sang penonton yang diberikan kacamata 3D, sedangkan metode kedua adalah obyeknya yang diberi kacamata 3D sehingga sang penonton bisa melihat efek 3D tanpa bantuan kacamata.
Untuk metode yang kedua contoh yang paling gampang dan paling dekat adalah 3DS yang baru saja diumumkan oleh Nintendo di E3 2010. Lalu bagaimana dengan metode yang pertama?
Eits, sabar dong, khusus untuk metode yang pertama kami memiliki banyak contoh dan banyak tehnik, jadi tenang saja! Kami pasti akan menjelaskan semuanya.
Enaknya menjelaskan dari mana dulu yah? Hmm, berhubung karena kita sudah susah payah "meminjam" mesin waktu milik Doraemon bagaimana kalau kita memulai dengan metode 3D yang kerap dipakai pada tahun 50-an, yaitu Anaglyp Image.
Anaglyph Image
Metode ini ditemukan pada tahun 50-an dan cukup populer di masanya. Kepopuleran tersebut terjadi karena cara pembuatannya yang relatif murah dan keterbatasan teknologi yang saat itu. Keterbatasan yang dimaksud adalah tidak tersedianya teknologi pembuat efek polarisasi cahaya atau pengkutuban cahaya yang bisa diaplikasikan pada media-media umum seperti TV, komik atau majalah.
Anaglyph sebenarnya masih memanfaatkan metode
side by side, tetapi kali ini gambarnya ditampilkan tiga kali dengan tiga spektrum yang berbeda dan saling berhimpitan. Biasanya spektrum yang pertama (paling kiri) berwarna merah dengan intensitas cahaya yang redup. Spektrum yang kedua (di tengah) memiliki warna lengkap dengan itensitas cahaya yang sedikit menonjol.
Sedangkan spektrum yang terakhir atau ketiga (paling kanan) memiliki warna
cyan (biru muda kehijauan) dan memiliki intensitas cahaya yang redup. Bila gambar tersebut dilihat dengan kacamata 3D anaglyph maka kamu akan mendapatkan efek
depth of preception. Efek tadi timbul karena kacamata 3D anaglyph menyaring warna yang masuk ke mata dengan warna yang sesuai dengan dua spektrum yang ada di sebelah spektrum utama.
Jadi saat mata kita berusaha menggabungkan kedua spektrum warna dengan warna sesungguhnya yang telah difilter oleh kacamata 3D anaglyph maka mata manusia akan mengalami semacam disorientasi latar belakang obyek yang pada akhirnya menimbulkan efek 3D.

Anaglyph Image
Walaupun metode ini ditemukan pada tahun 50-an sebenarnya semua teknologi 3D yang ada sekarang ini masih memanfaatkan beberapa poin penting dari metode anaglyph 3D. Entah itu pada bagian penyajian spektrum cahaya ataupun kacamatanya. Bahkan kacamata merah dan cyan terus disempurnakan hingga terakhir memakai kombinasi warna amber (kuning sawo) dan biru tua. Teknologi yang memanfaatkan kacamata berwarna amber dan biru tua tersebut diberi nama Color Code 3D.