ChromaDepth
Metode ChromaDepth yang dipatenkan oleh perusahaan Chromatek ini menghasilkan efek 3D yang memanfaatkan difraksi warna yang dihasilkan melalui film hologram yang berbentuk sperti prisma dan dimasukkan ke dalam kaca. Nantinya gambar-gambar yang ditampilkan akan memiliki jarak yang berbeda-beda berdasarkan panjang gelombang warnanya.
Obyek yang memiliki warna merah akan tampil paling depan, sedangkan yang memiliki warna biru akan tampil paling belakang. ChromaDepth menyimpan semua informasi dalam satu gambar hal ini membuat produk-produk yang menggunakan metode ChromaDepth tidak mengalami
ghosting atau gambar sisa, bahkan produk-produk tersebut bisa dinikmati tanpa kacamata 3D.

Chromadepth
Metode Lain
Bila metode-metode sebelumnya memanfaatkan kacamata atau alat optik lainnya maka mulai dari Parallax Barrier dan seterusnya kamu tidak membutukan sebuah kacamata 3D untuk menikmati gambar stereo. Lho kok bisa? Ingat dengan paragraf yang menjelaskan konsep tampilan 3D itu terbagi menjadi dua golongan metode? Metode pertama adalah penonton yang memakai kacamata, sedangkan metode yang lainnya adalah obyeknya yang diberi kacamata. Nah, filter paralaks adalah salah satu metode yang berasal dari golongan kedua.
Sebenarnya metode memakaikan kacamata 3D pada sebuah obyek hanya ada dua jenis, yang pertama adalah lensa lenticular sedangkan yang kedua adalah filter paralaks. Kami akan membahas filter paralaks terlebih dahulu karena metode ini cukup populer dan akan kamu temui pada 3DS.
Lho, bagaimana dengan metode lensa lenticular? Tenang, kami pasti akan membahas metode tersebut, kami membahasnya belakangan karena untuk membahas lensa lenticular kita harus kembali naik ke mesin waktu dan mampir ke masa di mana para anggota redaksi KotGa masih kecil, muda dan suci dari dosa (halah).
Parallax Filter
Teknologi filter paralaks diciptakan oleh SHARP dan dipakai luas oleh perusahaan-perusahaan lainnya seperti Fujifilm (Fujifilm FinePix Real 3D W1), Hitachi dan Nintendo (3DS). Efek 3D dalam metode filter paralaks tercipta karena mata kiri dan kanan menangkap piksel yang berbeda di waktu yang bersamaan.
Untuk mewujudukan kondisi ini sebuah filter dengan celah-celah khusus yang sangat presisi ditempatkan di depan layar LCD. Satu-satunya kelemahan filter paralaks adalah posisi penonton yang harus diatur sedemikian rupa agar dapat menikmati efek 3D yang dihasilkan secara utuh. Filter paralaks menghasilkan gambar 3D yang mirip dengan metode lenticular.
Lenticular Lens
Yak, seperti yang kami sebutkan tadi, untuk membahas metode ini kami harus kembali ke masa kecil redaksi KotGa, lebih tepatnya periode sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah. Hmm, siapa yah yang kita ambil sebagai spesimen awal? Kepala redaksi? Terlalu tua, mungkin metode lenticular belum eksis di jamannya (kabur!! Takut di
timpuk pakai mainan
Kamen Rider yang ada di atas komputer kepala redaksi KotGa).
Aha, bagaimana kalau Endra, sang
newcomer berbakat yang dipertanyakan spesiesnya.
Hayuk deh, kita menuju ke masa kecil Endra!
Yak, di ujung lorong waktu mulai terlihat kamar Endra waktu masih kecil. Isinya kok "aneh-aneh" yah, ya sudah lah. Hmm..(
celingak-celinguk), nah ini dia, contoh metode lenticular (sambil mengambil penggaris
norak berwarna kuning yang
nyempil di pojokan). Masih ingat dengan penggaris ini? Coba kamu miringkan, gambarnya berubah-ubah bukan? Itulah metode pencetakkan gambar secara lenticular yang menjadi dasar lensa lenticular.
Lensa lenticular memanfaatkan lekuk-lekukan yang dibuat didalam lensa sehingga sebuah obyek menghasilkan dua buah sudut pandang atau lebih. Bila penggarisan kuning yang menjadi contoh hanya memiliki dua atau tiga sudut pandang, pada lensa lenticular
modern sudut pandang yang dihasilkan sudah mencapai 46 buah.