Orang boleh saja bilang game konsol yang bergenre action belakangan ini tidak menunjukkan kemajuan ataupun bentuk inovasi yang signifikan. Hal ini terdorong dengan banyaknya developer yang memfokuskan diri pada game RPG dan Shooter. Namun tidak untuk sosok Hideki Kamiya, otak jenius di belakang pembuatan game
Devil May Cry, yang beranggapan game bergenre action akan tetap hidup dan berjaya di kemudian hari. Maka dirinya bersedia ketika ditawari menangani pembuatan game
Bayonetta.
Alur cerita pada
Bayonetta sendiri berkutat pada sosok penyihir bernama sama dengan game judulnya, Bayonetta, kalau boleh dibilang satu-satunya yang paling enak dilihat mata di game ini, tentunya dibandingkan monster-monster buruk rupa yang harus dihadapi Bayonetta sepanjang game. Sama seperti karakter jagoan cewek lainnya, Bayonetta memiliki kelebihan paras wajah yang cantik dan bodi yang aduhai seksi, tapi jangan pernah meragukan kekuatannya. Caranya berkelahi lebih ke arah penggabungan serangan pistol dan magis. Ada empat kombinasi senjata yang bisa digunakan, termasuk dua senjata pistol yang tersimpan dalam sepatunya. Ada yang mau kasih tahu bagaimana cara dia menarik pelatuk untuk pistol yang di kaki?
Fitur combat lainnya masih kentara gaya ala
Devil May Cry, dimana serangan combo bisa mengalir dengan cepat sambil melakukan gerakan akrobatik di udara. Keunikan lain dalam game ini adalah kemampuan unik 'rambut magis' Bayonetta, yang mampu berubah-ubah wujud, dari bentuk pukulan segede palu godam sampai belati tajam menghunus dan menerobos siapapun yang menghalangi jalannya. Rambutnya pun digunakan untuk keperluan lain, misalnya berubah menjadi kupu-kupu yang menerbangkan dirinya ke tempat tertentu.
Masa cuma itu kehebatan Bayonetta? Tentu tidak, Bayonetta juga bisa mengeluarkan ilmu magis spesial untuk memanipulasi waktu, yakni ‘Witch Time’, dimana semua berjalan lambat. Mungkin kamu berpendapat
Bayonetta tidak menampilkan sebuah inovasi yang benar-benar baru (selain serangan menggunakan rambut), tapi kenyataan dalam game ini kamu bisa melihat penggabungan beberapa elemen klasik dari game genre macam ini tentunya memberi perasaan yang menggembirakan bagi sejumlah gamer tertentu.
Sejauh ini,
Bayonetta masih sangat mirip dengan game ciptaan Hideki Kamiya lainnya sebelum ini, yakni
Devil May Cry, tapi dengan menawarkan beberapa detil tambahan dan elemen-elemen pendukung lainnya. Pastinya dari segi grafis,
Bayonetta tidak terlalu mengecewakan untuk kelas game-game jaman sekarang, dan pendapat pribadi saya sendiri mengatakan game ini memiliki daya kreatifitas yang tinggi. Harapan ke depannya,
Bayonetta dapat mengusung kembali nama game bergenre action untuk berbicara lebih banyak dalam blantika game sekarang.