Untuk sebuah game dengan episode yang cukup banyak,
Conflict: Denied Ops tidak memperlihatkan perubahan yang lebih baik dan bahkan bisa dibilang game ini adalah game FPS yang paling sederhana buatan Pivotal Games. Gameplay yang dihadirkan game
Conflict: Denied Ops sangat ketinggalan jaman, saking kunonya kamu akan sadar bahwa musuh yang kamu lawan terlihat mirip antara satu dengan yang lainnya. Mode co-op multiplayer menawarkan gameplay yang lumayan menarik walaupun cara bermain yang ditawarkan masih tetap terasa sederhana dan memungkinkan kamu bermain ala Rambo.
Walaupun game ini bertemakan militer yang sangat kental, sebenarnya gameplay
Conflict: Denied Ops terjebak di antara pendekatan realistis dan
arcade. Rasa-rasanya terkadang saya menemukan diri saya tewas terkapar akibat satu tembakan tetapi kadang-kadang saya bisa berlagak ala John Rambo, merangsek maju ke depan sambil menerima hantaman peluru yang hanya menyebabkan saya terluka. Dari segi cerita, episode
Conflict kali ini memiliki cerita yang tergolong biasa saja, kamu hanya akan menjalankan sepuluh misi yang tersebar di berbagai belahan dunia dan berujung pada konspirasi tingkat tinggi yang memiliki kaitan dengan bom nuklir. Tadinya game
Conflict selalu menggunakan sudut pandang orang pertama, khusus pada episode kali ini sudut pandang berubah menjadi sudut pandang orang ketiga. Jumlah karakter ikut dikurangi pada episode kali ini, dari empat karakter pada
Conflict sebelumnya menjadi hanya dua orang saja.
Kerjasama tim sangat memegang peranan penting selama permainan, untungnya dalam mode single player AI yang ada cukup cerdas. Kamu dapat memerintah rekanmu dengan cepat dan mudah, bahkan AI bisa bereaksi otomatis terhadap lingkungan sekitarnya. Bila diposisikan secara tepat, AI partnermu dapat membunuh banyak musuh atau boss, seperti yang terjadi pada saat ketika saya diharuskan melawan sebuah heli. Satu-satunya kelemahan AI yang saya temui dalam game ini hanyalah AI bereaksi sempurna terhadap musuh tetapi tidak terhadap karakter saya, sehingga ketika saya sudah memutuskan untuk maju ke ruangan berikutnya, AI partner saya tidak mengikuti perbuatan saya dan dia tetap berjaga pada lokasi yang tadi saya perintahkan. Ada kelemahan yang cukup lucu ketika saya memerintahkan partner saya untuk maju ke poin tertentu sedangkan dia sedang dalam kondisi mengendarai kendaraan, bukannya maju ke arah yang saya tunjukan, dia lebih memilih menabrak saya karena berdiri di antara rute yang akan dilaluinya.
Desain level selama misi berlangsung cukup monoton, entah kenapa saya merasa tantangan yang saya dapatkan dalam setiap misi selalu sama saja. Setiap misi hanya mengharuskan saya membasmi semua musuh yang muncul dan berjalan ke poin selanjutnya. Memang desain level yang disediakan cukup beragam, mulai dari jalanan berdebu di Rwanda sampai ke sebuah kastil di Siberia. Tetapi semuanya tidak lebih dari sekedar sebuah perjalanan dari poin A menuju poin B.