NEWS

Permintaan CPU AMD Meledak Berkat 'Agentic AI', Lisa Su Beri Peringatan Stok Mulai Menipis

Rahmat Handiko    |   Rabu, 04 Mar 2026


Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Dunia kecerdasan buatan (AI) selama ini selalu identik dengan dominasi GPU. Namun, tren terbaru menunjukkan pergeseran menarik. CEO AMD, Lisa Su, baru-baru ini mengungkapkan bahwa perusahaannya tengah menghadapi lonjakan permintaan CPU server yang "di luar dugaan." Begitu besarnya minat pasar, Lisa Su memperingatkan bahwa pasokan kini mulai mengetat.


Mengapa CPU Kembali Menjadi Primadona?

Lonjakan ini bukan tanpa alasan. Munculnya Agentic AI-sistem AI yang mampu bertindak sebagai "agen" mandiri untuk menyelesaikan tugas kompleks-telah mengubah komposisi beban kerja di pusat data.

Jika sebelumnya GPU memegang peran utama dalam pelatihan model, kini peran CPU menjadi krusial untuk mengelola logika dan alur kerja aplikasi AI yang semakin dinamis. Beberapa poin utama dari fenomena ini meliputi:

  • Diversifikasi Infrastruktur: Raksasa teknologi (hyperscalers) seperti Meta mulai menjalin kesepakatan khusus untuk pengadaan CPU mandiri.
  • Perubahan Rasio Compute: Rasio kebutuhan CPU terhadap GPU dalam beban kerja AI modern meningkat drastis dalam beberapa bulan terakhir.
  • Optimasi Agentic AI: Aplikasi berbasis agen membutuhkan pemrosesan logika yang kuat, di mana arsitektur CPU AMD EPYC sangat diunggulkan.


Pernyataan Lisa Su: Permintaan Melampaui Ekspektasi

Dalam konferensi bersama Morgan Stanley, Lisa Su mengakui bahwa meskipun ia sangat optimis terhadap bisnis GPU, performa lini CPU justru jauh melampaui prediksinya.

"Jika Anda berbicara dengan pelanggan utama kami, mereka akan berkata, 'Lisa, permintaan untuk komputasi CPU yang mendampingi AI mungkin adalah sesuatu yang sebelumnya kurang terprediksi.' Saat ini kami sedang dalam proses mengejar ketertinggalan tersebut," ujar Lisa Su.

Kondisi "pasokan ketat" (supply tightness) yang terjadi saat ini disebabkan oleh pertumbuhan minat pelanggan yang terjadi secara tiba-tiba dalam beberapa kuartal terakhir. Hal ini membuat rantai pasok (supply chain) membutuhkan waktu ekstra untuk melakukan penyesuaian.

Baca ini juga :

» Masa Depan Keamanan Industri: Fujisoft dan AMD Hadirkan Solusi Keamanan Berbasis AI yang Lebih Cerdas
» Lenovo Yoga Tab Segera Meluncur di Indonesia: Tablet AI Ringan untuk Kreativitas Tanpa Batas
» Lenovo Gandeng David Beckham untuk Revolusi AI di Dunia Sepak Bola
» Square Enix x Google Bikin Chatty Slimey, Fitur Teman Ngobrol Buat Pemain Dragon Quest X
» Jensen Huang Berubah Pikiran Soal AI Di Game, Apakah Karakter Development?

AMD tidak sendirian dalam menghadapi situasi ini. Tren ini mempertegas bahwa CPU kembali menjadi komponen vital dalam ekosistem AI:

  • Intel: Melaporkan situasi serupa, bahkan sempat kesulitan memenuhi komitmen kepada hyperscaler karena keterbatasan kapasitas produksi.
  • NVIDIA: Meski dikenal sebagai raja GPU, NVIDIA juga mulai mendorong penggunaan CPU (seperti seri Grace/Vera) untuk mendampingi infrastruktur AI mereka.

Untuk mengatasi hambatan (bottleneck) produksi, AMD menyatakan tengah bekerja sama erat dengan para mitra manufaktur. Lisa Su optimis bahwa kapasitas produksi akan meningkat secara signifikan di tahun mendatang. Produk-produk AMD saat ini diklaim berada di posisi yang sangat strategis untuk menangani kebutuhan training, inference, hingga kebutuhan spesifik agentic AI.

Selain berita utama di atas, KotakGame juga punya video menarik yang bisa kamu tonton di bawah ini.

TAGS

Jika ingin mengirim artikel, kerjasama event dan memasang Iklan (adverstisement) bisa melalui email redaksi[at]kotakgame.com atau Hotline (021) 93027183
rekomendasi terbaru