




Arknights: Endfield lagi jadi bahan omongan karena berani nyebur ke pasar gacha action RPG di era pasca-Genshin Impact yang makin rame dan mirip-mirip satu sama lain. Alih-alih sekadar ikut template “open world, combat flashy, gacha waifu/husbando”, game ini milih jalur nyeleneh: nyampurin action RPG dengan gameplay mirip game pabrik dan otomatisasi ala Factorio. Hasilnya, Endfield bukan cuma kelihatan beda di permukaan, tapi juga ngasih pengalaman main yang terasa lebih unik buat pemain yang udah capek sama formula gacha itu-itu aja.
Arknights: Endfield dev says launching a new gacha RPG in a post-Genshin Impact world is tough when "some titles are so similar that players go into a game for 1 hour and they know what will happen in the next 20 hours" https://t.co/LHKPXsiaUe
— GamesRadar+ (@GamesRadar) April 3, 2026
Lead developer yang dikenal sebagai Ryan cerita kalau ide sistem pabrik dan automation ini awalnya cuma sesuatu yang pengin mereka coba karena doyan game sandbox. Tapi ternyata, eksperimen itu jadi senjata utama Endfield buat tampil beda di tengah lautan game gacha yang mulai homogen. Dia nunjuk kalau di banyak game open world lain, dunia di sekeliling pemain cuma sebatas dekorasi: cantik dilihat, tapi jarang benar-benar bisa diutak-atik secara mendalam. Di Endfield, justru sisi bangun-membangun itulah yang bikin pemain merasa bisa mempengaruhi dunia dan ngerasa punya “jejak” sendiri di dalamnya.
Menurut Ryan, rata-rata pemain ngabisin waktu lebih lama di Endfield dibanding game sejenis karena keasikan ngulik sistem sandbox dan bangunan mereka. Yang bertahan, katanya, bisa menghabiskan puluhan jam cuma di fitur pabrik dan automation, nyusun layout, optimasi jalur produksi, sampai bikin sistem yang jalan sendiri. Buat ukuran game gacha yang biasanya fokus ke grind harian dan banner karakter, fakta kalau pemain kerasan nongkrong di sistem building jadi sinyal kuat kalau pendekatan nyeleneh ini berhasil.
Menariknya, tim Endfield nggak mau bikin sistem ini makin rumit sampai level spreadsheet simulator yang penuh hitung-hitungan. Ryan menjelaskan kalau strategi mereka bukan “bikin game makin susah”, tapi nambahin mekanik baru yang beda dan segar tanpa nuntut pemain paham matematika tingkat lanjut. Intinya, mereka pengin kedalaman gameplay yang bisa dieksplor, tapi tetap ramah buat pemain yang cuma pengin seru-seruan bikin pabrik tanpa pusing teori crafting optimal.
Kalau lihat tren beberapa tahun terakhir, langkah Endfield ini cukup berani. Sejak Genshin Impact meledak, bermunculan gacha action RPG yang mengusung gaya serupa: dunia luas, combat flashy, karakter collectible, live service jangka panjang. Nama-nama seperti Neverness to Everness dan Silver Palace jadi contoh gimana pasar ini terus terisi oleh judul baru dengan DNA yang mirip. Di kondisi kayak gitu, nggak heran kalau developer ngerasa berat: banyak game yang saking miripnya bikin pemain cuma butuh satu jam untuk nebak 20 jam gameplay ke depan.
Baca ini juga :
» Siap Menjelajah Galaksi? HoYoverse Buka Pendaftaran "Tes Stardrift" Petit Planet!
» Eksplorasi Mondstadt Utara & Debut Linnea! Bocoran Lengkap Genshin Impact Versi Candra VI
» Hoyoverse "Sapu Bersih" 1 Juta Link Cheat dan Bajakan
» Genshin Impact dan Duolingo Berkolaborasi dalam Petualangan Belajar di Aplikasi Duolingo
» Honkai: Star Rail Siap Rilis Versi 3.8 Bertajuk Kenangan adalah Pembukaan dari Mimpi
Di sisi lain, Endfield juga tampaknya bakal mengikuti jejak “saudaranya”, Arknights, dalam hal variasi mode permainan. Arknights sebelumnya pernah nambahin mode-mode unik seperti versi mereka sendiri dari auto chess, dan Ryan bilang tim Endfield juga sudah menyiapkan berbagai jenis gameplay baru buat update ke depan. Harapannya, Endfield bukan cuma berhenti di kombinasi action RPG plus factory-building, tapi berani makin liar dengan eksperimen genre lain di dalam satu ekosistem game.
Untuk sebuah live service yang rilis di 2026, kekhawatiran soal “kuburan live service” jelas kebayang, apalagi udah banyak judul yang tumbang sebelumnya. Tapi pendekatan seperti Endfield nunjukkin satu hal penting: di pasar gacha yang makin padat, sekadar ngikut formula sukses nggak cukup lagi. Pemain makin cepat bosan, dan butuh sesuatu yang benar-benar terasa baru, bukan cuma variasi tipis di atas template lama. Mengubah RPG jadi semi-game pabrik mungkin kedengarannya niche, tapi justru langkah berani semacam ini yang bisa bikin satu judul punya identitas kuat di mata pemain.
Buat kamu yang doyan gacha tapi mulai jenuh sama pola yang itu-itu lagi, Arknights: Endfield bisa jadi contoh menarik gimana sebuah game coba cari jalan lain. Bukan cuma nawarin karakter baru buat dipull, tapi juga cara baru menikmati waktu di dalam game, dari sekadar ngelarin daily quest sampai ngebangun sistem pabrik raksasa yang berjalan otomatis. Di tengah dunia post-Genshin yang makin sesak, game kayak gini nunjukin kalau masih ada ruang buat ide nyentrik, selama berani ambil risiko dan tetap mikirin kenyamanan pemain.
Recommended by Kotakgame
Srikandi Dunia Esports Indonesia! Inilah Dere...
Siap Menjelajah Galaksi? HoYoverse Buka Penda...