




Resident Evil sudah 30 tahun, tapi bukannya makin capek, seri ini malah lagi di puncak form banget lewat Resident Evil Requiem yang baru saja rilis. Game ini berasa kayak rangkuman tiga dekade horor, aksi, dan drama khas Resi, tapi dibungkus dengan cara yang terasa modern, relevan, dan sekali lagi nunjukin kalau Capcom masih sangat paham apa yang bikin fans cinta sama franchise ini.
Em extensa entrevista ao @eurogamer, o diretor de Resident Evil Requiem Koshi Nakanishi e o produtor Masato Kumazawa revelaram o que os fãs podem esperar sobre o futuro de Leon Kennedy na franquia #ResidentEvil!
— EvilHazard.com.br Resident Evil & Survival Horror (@EvilHazardBR) May 4, 2026
Leon já está chegando aos 50 anos, mas Kumazawa disse que a equipe… pic.twitter.com/RzsapZ6ZlD
Requiem berdiri di persimpangan yang menarik: di satu sisi, ini lanjutan saga panjang dunia Resident Evil, di sisi lain jadi pintu masuk enak buat pemain baru lewat karakter baru Grace Ashcroft yang langsung jadi favorit banyak orang. Di saat yang sama, game ini juga bawa balik Leon S Kennedy, bukan cuma sebagai fanservice, tapi benar-benar dipakai buat nutup beberapa benang cerita lama dan ngasih momen penutup yang emosional buat penggemar veteran. Yang bikin keren, semua itu dikemas dalam game yang banyak orang sebut sebagai salah satu seri paling menyeramkan yang pernah ada, tapi tetap punya sentuhan humor dan over the top ala Resident Evil.
Buat Capcom, pondasi setiap game Resident Evil selalu dimulai dari satu kata: takut. Timnya duluan nentuin dulu, horor seperti apa yang mereka kejar di judul kali ini, baru dari situ gameplay, pacing, dan elemen lain dibangun mengelilingi visi itu. Esensi Resident Evil menurut sang sutradara ada di kombinasi rasa tertekan karena situasi horor yang berat, plus katarsis ketika lo berhasil survive dan bahkan bisa melawan balik. Jadi kalau cuma murni horor tanpa aksi, atau sebaliknya, besar kemungkinan fans bakal ngerasa itu bukan lagi Resident Evil yang mereka kenal.
Di Requiem, horor itu balik ke akarnya: zombie dan Raccoon City. Bedanya, zombie di sini jauh dari sekadar mayat berjalan yang biasa lo temui di game lain atau bahkan seri-seri Resi sebelumnya. Banyak dari mereka masih kayak nempel sama rutinitas hidupnya sebelum jadi mayat hidup: tukang bersih-bersih masih sibuk ngegosok toilet berlumur darah, petugas masih mainin lampu, koki masih mengerjakan masakan disturbingly kreatif, bahkan ada mantan selebriti yang tiba-tiba nyanyi di tengah kengerian. Hasilnya campur aduk: lucu, menyedihkan, sekaligus ngagetin, dan ini memang sengaja dibuat buat bikin pemain nggak nyaman.
Tim pengembang sadar, zombie cuma efektif kalau kita masih bisa lihat sisa-sisa sisi manusianya. Dari situlah rasa ngeri muncul, karena lo dipaksa mikir bahwa mereka dulu orang biasa seperti kita. Tapi karena dunia udah kebanjiran media soal zombie, Capcom ngerasa mereka perlu ngasih twist, bikin zombie yang unpredictable dan sedikit di luar pakem supaya tetap bisa terasa menakutkan. Sensasi serem di Requiem juga nggak cuma datang pas musuh muncul, tapi dari momen-momen sebelum itu, ketika lo jalan di koridor sempit dan nggak tahu kapan sesuatu bakal nongol. Tegangnya justru sering ada di antisipasi, bukan di jumpscare-nya.
Baca ini juga :
» Resident Evil Code: Veronica Remake Bakal Ubah Karakter Alfred Ashford?
» Resident Evil Disebut Mungkin Akan Berlatar Di Jepang
» Rumor Devil May Cry 1 Dirumorkan Mendapat Project Remake
» Resident Evil Requiem Kasih Update Mini Games: Leon Must Die Forever!
» Hideki Kamiya Block Orang Indonesia Karena Bertanya Tentang Game Bayonetta
Menariknya lagi, Capcom nggak cuma ngegas di horor tanpa rem. Mereka pengin dorong batas ketakutan pemain, tapi tetap sadar kalau game ini harus bisa dinikmati banyak orang, bukan cuma penikmat horor garis keras. Jadi targetnya adalah fear yang bikin nagih: lo takut, tapi justru pengin lanjut main, bukan langsung uninstall. Di sini struktur dua sudut pandang antara Grace dan Leon jadi penting banget. Grace dapat porsi horor yang intens dan emosional, sementara Leon lebih ke aksi gung ho yang berasa kayak katup pelepas tekanan setelah sesi-sesi menegangkan bersama Grace.
Leon di Requiem benar-benar diposisikan sebagai role yang bisa bantu pemain tarik napas, tapi tetap dalam batas kadar kegilaan yang diukur dengan cermat. Timnya bahkan mikir, momen mana yang bakal jadi puncak keabsurdan Leon, lalu dari situ mereka pastikan jangan sampai ada adegan yang lebih gila lagi supaya tone cerita nggak jebol. Makanya lo bisa lihat adegan segila Leon naik motor di sisi gedung pencakar langit dan kejar-kejaran kendaraan yang super bombastis, tapi habis itu dia dapat momen sunyi dan reflektif ketika balik ke kantor polisi Raccoon City yang hancur dan mengingat hari pertama kerjanya. Di titik lain, storyline soal infeksinya juga bikin tokoh ini tetap punya bobot emosional, bukan sekadar badut aksi.
Kembali ke Raccoon City sendiri terasa natural buat tim, apalagi ini pertama kalinya mereka balik ke kota itu di timeline masa kini setelah 30 tahun. Awalnya Requiem bahkan bukan diniatkan sebagai proyek perayaan 30 tahun, tapi jadwal rilis yang akhirnya jatuh di tahun ulang tahun bikin tim makin termotivasi untuk tabur referensi dan nostalgia. Meski begitu, mereka sengaja nahan diri, nggak asal lempar semua karakter populer hanya demi bisa bilang ini reuni besar-besaran. Referensi dan Easter egg lebih sering muncul lewat file, properti, atau detail kecil yang bisa dikenali fans lama kalau mereka mau ngulik. Salah satu yang dibanggakan adalah Letters from 1998 di edisi Deluxe, yang mengulas insiden Raccoon City dengan cara yang menyenangkan buat penggemar.
Di luar nostalgia, Capcom juga sadar masa depan Resident Evil bergantung pada dua kubu: fans lama dan pemain baru. Requiem dirancang dengan memikirkan keduanya, memastikan orang yang baru masuk nggak merasa tersesat, sementara pemain veteran tetap dapat payoff dari pengetahuan mereka selama ini. Di sini, sosok penggemar justru dianggap aset utama, karena word of mouth mereka yang selama ini bantu meyakinkan orang lain kalau mereka bisa mulai dari game terbaru tanpa harus hafal semua lore dari awal.
Baca ini juga :
» Resident Evil Code: Veronica Remake Bakal Ubah Karakter Alfred Ashford?
» Resident Evil Disebut Mungkin Akan Berlatar Di Jepang
» Rumor Devil May Cry 1 Dirumorkan Mendapat Project Remake
» Resident Evil Requiem Kasih Update Mini Games: Leon Must Die Forever!
» Hideki Kamiya Block Orang Indonesia Karena Bertanya Tentang Game Bayonetta
Soal karakter baru, Grace Ashcroft jadi bukti kalau Capcom masih jago banget menciptakan ikon baru. Respon pemain terhadap Grace sangat positif, dan tim merasa salah satu alasan utamanya adalah karena dia terasa jauh lebih emosional dan ekspresif dibanding karakter Resident Evil yang biasanya lebih tegar dan sudah terlalu sering melewati neraka. Buat banyak pemain, ini pertama kalinya Grace ngalamin mimpi buruk sebesar ini, dan rasa takut yang dia tunjukkan justru bikin dia jadi relateable dan bikin orang pengin lihat dia selamat. Menariknya lagi, ketika sempat muncul kontroversi soal redesain AI versi DLSS 5 yang dianggap terlalu memoles wajahnya, banyak fans justru membela desain asli, yang oleh produser dilihat sebagai tanda kalau mereka dari awal sudah mengambil keputusan desain yang tepat.
Isu soal regenerasi cast juga sempat mengemuka, mengingat karakter klasik seperti Leon secara umur sudah mendekati kepala lima jika mengikuti waktu nyata. Namun sutradara menjelaskan bahwa mereka tidak terikat aturan kaku untuk selalu menua tiap karakter sesuai kalender dunia nyata di setiap game. Mereka juga tidak merasa perlu buru-buru menggantikan wajah-wajah ikonik dengan karakter yang lebih muda hanya demi mengejar generasi baru pemain. Selama karakter seperti Leon masih menarik di versi yang sekarang, mereka merasa masih banyak cara untuk memakainya, bahkan bercanda kalau suatu hari nanti pun Leon berumur 70 tahun, ia tetap bisa jadi karakter yang keren.
Secara komersial, strategi ini semua terbukti berhasil. Dalam waktu sekitar dua bulan sejak rilis, Requiem sudah terjual lebih dari 7 juta kopi dan jadi game dengan penjualan tercepat di sepanjang sejarah seri Resident Evil. Di usia 30 tahun, banyak franchise justru mulai kehilangan generasi baru, tapi Resident Evil malah terasa makin kencang larinya, memadukan horor yang makin mencekik, aksi yang absurd tapi seru, nostalgia yang diracik dengan rasa hormat, dan karakter baru yang langsung nancep di hati pemain. Requiem bukan cuma entry baru, tapi semacam statement kalau warisan Resident Evil masih jauh dari kata tamat.
Recommended by Kotakgame
Srikandi Dunia Esports Indonesia! Inilah Dere...
Resident Evil Code: Veronica Remake Bakal Uba...