




Perusahaan game Ubisoft tengah menghadapi salah satu periode terberat dalam sejarahnya. Tekanan dari para investor semakin menguat, mendesak perusahaan untuk mempertimbangkan opsi penjualan. Penyebab utama dari tekanan ini adalah kinerja keuangan yang terus memburuk, ditandai dengan penurunan harga saham secara signifikan dan penerimaan yang kurang memuaskan dari beberapa rilis game terbaru.
Puncak dari permasalahan ini adalah kegagalan Star Wars Outlaws dalam memenuhi ekspektasi pasar. Meskipun membawa lisensi Star Wars yang populer, game ini hanya mampu meraih penjualan satu juta kopi di bulan pertamanya, angka yang jauh di bawah target perusahaan. Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi Ubisoft, yang telah menginvestasikan sumber daya yang signifikan dalam pengembangan game tersebut.
Assassin's Creed Shadows will now release February 14, 2025. pic.twitter.com/J2ah7kkytW
— Assassin's Creed (@assassinscreed) September 25, 2024
Menanggapi tekanan yang semakin meningkat, Ubisoft telah mengambil beberapa langkah strategis. Salah satunya adalah penundaan peluncuran Assassin's Creed Shadows, salah satu franchise andalan perusahaan. Keputusan ini diambil untuk memastikan kualitas game yang lebih baik, mengingat pelajaran yang diperoleh dari pengalaman Star Wars Outlaws. Selain itu, perusahaan juga telah merevisi proyeksi keuangannya, mengindikasikan penurunan pendapatan yang signifikan di masa depan.
Baca ini juga :
» Ubisoft Batalkan Prince of Persia Remake Beserta 5 Project Lainnya
» Ubisoft Layoff 71 Karyawan Ubisoft Halifax Seminggu Setelah Berserikat
» Ubisoft Kena Hacked, Rainbow Six Siege Kena Dampak Paling Besar!
» FX Resmi Angkat Serial “Far Cry”, Adaptasi Yang Ambisius?
» Assassin's Creed Shadows Overperforming Menurut Ubisoft, Untung Besar!
Investor aktivis, AJ Investments, telah mengambil inisiatif untuk mendorong perubahan di Ubisoft. Kelompok ini telah berhasil mengumpulkan dukungan dari para pemegang saham yang mewakili 10% saham perusahaan. Mereka mengusulkan agar Ubisoft dijual kepada perusahaan ekuitas swasta atau kepada raksasa game asal Tiongkok, Tencent. Menurut AJ Investments, langkah ini dianggap sebagai solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi perusahaan saat ini.
Masalah yang dihadapi Ubisoft bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Industri game secara keseluruhan tengah mengalami tantangan yang cukup kompleks, termasuk kejenuhan pasar, harga game yang terus meningkat, dan kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Persaingan yang semakin ketat di antara para pengembang game juga menjadi faktor yang turut memperburuk situasi.
CEO Ubisoft, Yves Guillemot, mengakui bahwa perusahaan perlu melakukan penyesuaian yang signifikan untuk dapat bertahan dalam kondisi pasar yang semakin sulit. "Memberikan kualitas yang solid tidak lagi cukup," ujar Guillemot. "Kami harus terus berinovasi dan menemukan cara-cara baru untuk menarik minat para pemain."
Selain berita utama di atas, KotakGame juga punya video menarik yang bisa kamu tonton di bawah ini.
Recommended by Kotakgame
Srikandi Dunia Esports Indonesia! Inilah Dere...
Ubisoft Batalkan Prince of Persia Remake Bese...