NEWS

AI Hidupkan Suara Korban yang Sudah Meninggal: Era Baru di Ruang Sidang?

Fakhri Mustaqim   |   Senin, 26 May 2025


Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Di tengah persidangan kasus penembakan yang digelar di Arizona, Amerika Serikat, pada Mei 2025, publik dikejutkan oleh kehadiran seorang “saksi” yang sudah tiada. Chris Pelkey, pria berusia 37 tahun yang menjadi korban dalam tragedi penembakan tahun 2021, tiba-tiba “muncul” dan berbicara di ruang sidang. Tapi ini bukan keajaiban mistis—melainkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang membuka lembaran baru dalam proses peradilan modern

Empat tahun sebelumnya, Pelkey kehilangan nyawanya dalam sebuah insiden penembakan di jalan raya Arizona. Pelaku penembakan, Gabriel Horcasitas, akhirnya diadili setelah bertahun-tahun kasus ini bergulir. Vonis 10 tahun penjara dijatuhkan kepadanya. Namun, perhatian publik tak hanya tertuju pada hukuman tersebut, melainkan pada momen menggetarkan ketika “Pelkey” berbicara kepada pelaku melalui sebuah video yang seolah ia rekam sendiri.

Video itu bukan rekaman lama. Itu adalah rekonstruksi digital Pelkey, dibuat oleh saudara perempuannya, Stacey Wales, menggunakan teknologi AI. Dengan menggabungkan foto, cuplikan video, dan rekaman suara Pelkey, Stacey menciptakan sebuah pernyataan digital yang begitu hidup dan emosional—hingga penonton di ruang sidang merasa seolah-olah Pelkey benar-benar hadir.

Dalam video tersebut, Pelkey versi AI berkata “Untuk Gabriel Horcasitas, pria yang menembak saya, sangat disayangkan kita bertemu dalam situasi seperti ini. Di kehidupan lain, kita mungkin bisa berteman. Saya percaya pada pengampunan. Dan Tuhan adalah maha pengampun.”

Pernyataan itu bukan hanya menyentuh hati para hadirin, tapi juga Hakim Todd Lang yang memimpin sidang. Ia memuji penggunaan teknologi ini dan menyebutnya sebagai bentuk representasi emosional korban, meski menegaskan bahwa video diputar setelah vonis dijatuhkan, sehingga tidak memengaruhi hasil keputusan.

Baca ini juga :


» Permintaan CPU AMD Meledak Berkat 'Agentic AI', Lisa Su Beri Peringatan Stok Mulai Menipis
» AMD Gebrak Pasar PC AI: Luncurkan Lini Ryzen™ AI 400 Series untuk Desktop dan Workstation
» AMD & Nutanix Jalin Kemitraan Strategis: Masa Depan Infrastruktur "Agentic AI" yang Terbuka
» HP Resmi Satukan OMEN dan HyperX: Standar Baru Ekosistem Gaming di Indonesia
» ASUS APAC Partner Summit 2026: Strategi "EVOLVE" Menuju Dominasi Pasar Laptop AI

“Saya berterima kasih. Walau Anda (Pelkey) sebenarnya marah, keluarga geram, saya mendengar pengampunan itu dan terasa tulus,” ucap sang hakim.

Amerika kini memang tengah menjajaki penggunaan AI dalam proses peradilan. Salah satu langkah nyata adalah upaya menyederhanakan bahasa putusan hukum agar lebih mudah dimengerti oleh masyarakat luas. Namun, penggunaan AI untuk menghidupkan suara korban tentu menimbulkan banyak pertanyaan etis, seperti apakah sah, dan juga benar - benar mewakili kehendak korban.

Meski demikian, banyak yang melihat ini sebagai peluang baru: AI bukan untuk menggantikan proses hukum, tapi untuk memberi ruang bagi suara-suara yang selama ini tak bisa hadir.

Selain berita utama di atas, KotakGame juga punya video menarik yang bisa kamu tonton di bawah ini.

TAGS

Jika ingin mengirim artikel, kerjasama event dan memasang Iklan (adverstisement) bisa melalui email redaksi[at]kotakgame.com atau Hotline (021) 93027183
rekomendasi terbaru