




Awal pekan ini, bos Pocketpair Publishing John Buckley menegaskan bahwa perusahaannya tidak tertarik menangani game yang dibangun dengan AI generatif: “Kalau kamu ngegas di AI, atau gamenya Web3/NFT, banyak publisher lain yang mau — kami bukan partner yang tepat.” Salah satu “partner lain” itu tampaknya adalah Krafton, pembuat PUBG, yang baru saja mengumumkan akan mengubah diri menjadi “perusahaan AI-first.”
Dalam pernyataan di situs berbahasa Korea, Krafton menyebut langkah ini sebagai reorganisasi besar-besaran atas sistem pengembangan dan operasionalnya, dengan AI ditempatkan “di pusat penyelesaian masalah.” Targetnya: mendorong perubahan organisasi, meningkatkan produktivitas di seluruh lini, dan mempercepat pertumbuhan nilai perusahaan jangka menengah–panjang.

Untuk mengeksekusi itu, Krafton akan menginvestasikan sekitar 100 miliar won (~US$69,7 juta) untuk membangun kluster GPU yang mendukung tugas bertahap dengan kebutuhan reasoning yang tinggi dan mempercepat implementasi “agentic AI.” Mulai 2026, mereka juga menyiapkan 30 miliar won (~US$21 juta) per tahun untuk mendorong karyawan memakai dan menerapkan berbagai alat AI langsung dalam pekerjaan mereka.
“Lewat strategi AI-First, Krafton akan memperluas peluang tumbuh untuk setiap individu, memperluas eksperimen kreatif yang berpusat pada pengalaman pemain, dan memimpin inovasi AI di industri game,” ujar CEO Kim Chang-han. “Kami akan membangun standar operasional berbasis AI dan menyajikan best practice yang bisa dijadikan rujukan secara global.”

» OpenAI Siapkan "Mode Dewasa" ChatGPT: Percakapan Lebih Terbuka, Verifikasi Usia Jadi Kunci
» AMD EPYC Embedded 2005 Series: Solusi Prosesor Zen 5 Ringkas dan Efisien untuk AI Generasi Baru
» Awas! Harga HP China Diprediksi Meroket, Bos Xiaomi Beri Peringatan Keras
» HEBOH! Palworld Mobile Debut di G-Star: Ini Beda-nya dari PC!
» Palworld Menuju Mobile, Early Access Akan Hadir Akhir Tahun Ini!
Implikasinya di lapangan masih belum jelas — tetapi secara naluri, ini terdengar tidak menyenangkan. Ada dua skenario yang sangat mungkin: PHK besar-besaran, karena para eksekutif masih percaya game bagus bisa dibuat oleh mesin yang tak butuh gaji atau cuti; atau kolaps total ketika gelembung AI pecah dan perusahaan terjebak dengan gudang GPU yang akhirnya dijual murah serta tumpukan utang untuk membelinya. Atau, seperti biasa, keduanya: PHK dulu, runtuh kemudian. Itulah pola yang sering terjadi.
Recommended by Kotakgame
Srikandi Dunia Esports Indonesia! Inilah Dere...
OpenAI Siapkan "Mode Dewasa" ChatGPT: Percaka...