




Selama sepekan terakhir, komunitas gaming dan analis industri sempat dibuat bingung oleh keputusan Ubisoft menunda laporan pendapatan kuartalannya selama enam hari. Di tengah spekulasi liar—mulai dari dugaan bahwa perusahaan telah dijual hingga kabar putusnya hubungan dengan investor utama Tencent—Ubisoft akhirnya memberikan penjelasan resmi yang jauh dari drama tersebut.
Pada Jumat pagi waktu Paris, CEO Ubisoft Yves Guillemot membuka konferensi pendapatan dengan menjelaskan penyebab utama penundaan: pergantian auditor perusahaan pada Juli serta kebutuhan untuk meninjau ulang (restatement) laporan fiskal 2025 karena kesalahan pengakuan pendapatan dari beberapa kemitraan strategis.
CFO Ubisoft, Frederick Duguet, kemudian memberikan rincian teknis. Tim auditor baru menemukan bahwa pendapatan dari sebuah “kemitraan signifikan” pada tahun fiskal sebelumnya (berakhir 31 Maret 2025) semestinya dicatat berbeda dalam laporan fiskal tahun berjalan. Penyesuaian ini juga memengaruhi pencatatan pendapatan dari satu kemitraan lain di musim panas, sehingga seluruh laporan keuangan harus direvisi.
Reuters menjelaskan dampaknya: restatement tersebut menyebabkan Ubisoft melampaui rasio batas leverage covenant pada beberapa perjanjian pendanaan per 30 September. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan melakukan pelunasan awal instrumen utang tertentu menggunakan dana dari kesepakatan strategis dengan Tencent.
Meski terjadi gangguan administratif, performa finansial Ubisoft justru menunjukkan peningkatan signifikan. Untuk kuartal Juli–September, perusahaan mencatat €491 juta (sekitar $567 juta) dalam net bookings—melampaui ekspektasi investor dan naik 39% dibanding tahun sebelumnya.
Franchise Assassin’s Creed kembali menjadi tulang punggung pendapatan, dengan peluncuran Assassin’s Creed Shadows pada Maret yang disebut “melampaui ekspektasi.” Ubisoft menyebut seri ini menghasilkan 211 juta session days, meningkat sekitar 35% dibanding rata-rata dua tahun terakhir. Meski begitu, perusahaan tidak membagikan angka penjualan spesifik Shadows.
Sementara itu, pembaruan terbaru untuk Assassin’s Creed Mirage membantu mendorong total pemain game tersebut melewati 10 juta pemain, menunjukkan umur panjang bagi judul yang dirilis tahun 2023 tersebut.
Terdapat pula laporan internal sebelumnya yang menyebut bahwa mini-expansion Mirage dikembangkan dengan dukungan finansial Pemerintah Arab Saudi—isu yang tetap tidak dikonfirmasi Ubisoft dan tidak dibahas dalam panggilan dengan investor kali ini.
Baca ini juga :
» Krisis Ubisoft 2026: Ribuan Karyawan Mogok Kerja Massal
» Ubisoft Batalkan Prince of Persia Remake Beserta 5 Project Lainnya
» Ubisoft Layoff 71 Karyawan Ubisoft Halifax Seminggu Setelah Berserikat
» Ubisoft Kena Hacked, Rainbow Six Siege Kena Dampak Paling Besar!
» FX Resmi Angkat Serial “Far Cry”, Adaptasi Yang Ambisius?
Sebagai salah satu judul live-service terkuat Ubisoft, Rainbow Six Siege masih mencatat pertumbuhan pemain, session days, dan waktu bermain selama kuartal musim panas. Namun, perusahaan mengakui adanya “lonjakan sementara cheating” yang berdampak negatif pada aktivitas pemain dan pengeluaran dalam game. Ubisoft mengklaim telah mengidentifikasi akar masalah dan sedang menjalankan rencana yang “solid” untuk menanganinya.
Bantahan terbesar terhadap rumor penjualan perusahaan datang dari pembaruan terkait hubungan Ubisoft dengan Tencent. Ubisoft memastikan bahwa kemitraan strategis keduanya tetap berjalan lancar, termasuk investasi Tencent sebesar €1,16 miliar ($1,25 miliar) dalam anak perusahaan baru bernama Vantage.
Vantage akan memimpin pengembangan proyek-proyek besar yang terkait dengan Assassin’s Creed, Far Cry, dan Rainbow Six. Ubisoft menyebut kesepakatan tersebut “on track to close” dalam hitungan hari, menepis kabar keretakan hubungan dengan raksasa teknologi asal Tiongkok itu.
Sebagai bagian dari program efisiensi biaya yang diumumkan sejak 2022, Ubisoft kembali memangkas jumlah karyawan. Hingga akhir September, jumlah tenaga kerja global berada di 17.097, turun dari 17.782 pada Maret, dan jauh berkurang dari hampir 21.000 pegawai pada tahun 2022.
Pemangkasan ini menjadi strategi lanjutan Ubisoft untuk mengendalikan struktur biaya di tengah kompetisi industri yang makin ketat dan pipeline produksi game yang semakin kompleks.
Recommended by Kotakgame
Srikandi Dunia Esports Indonesia! Inilah Dere...
Krisis Ubisoft 2026: Ribuan Karyawan Mogok Ke...