NEWS

Director Stellar Blade Bilang Jika AI Wajib Digunakan Untuk Bersaing Lawan China dan US

Mahesa   |   Rabu, 14 Jan 2026


Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Di tengah kekhawatiran soal daya saing industri kreatif Korea Selatan, CEO Shift Up sekaligus sutradara Stellar Blade, Kim Hyung-tae, menyuarakan pandangan tegas: tanpa AI, industri game Korea akan kesulitan bertahan di panggung global.

Pernyataan tersebut disampaikan Kim dalam forum nasional bertajuk “Strategi Pertumbuhan Ekonomi 2026” yang digelar pada 9 Januari. Acara ini dipimpin langsung oleh Presiden Korea Selatan dan dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, dengan Kim hadir sebagai perwakilan sektor swasta dari industri game.

Dalam paparannya, Kim secara terbuka mengakui adanya tekanan besar dari Tiongkok. Bukan soal ide atau kreativitas, melainkan kekuatan sumber daya manusia dalam skala masif. Ia menggambarkan kondisi yang timpang: satu proyek game di Shift Up biasanya digarap oleh sekitar 150 orang, sementara studio-studio di Tiongkok bisa mengerahkan 1.000 hingga 2.000 tenaga kerja untuk satu judul.


Dengan sekitar 80 persen pendapatan Shift Up berasal dari pasar luar negeri, Kim menilai persaingan dengan game buatan Tiongkok sudah tak terhindarkan. Dalam situasi seperti ini, ia menyebut bahwa Korea Selatan tidak mungkin menang jika hanya mengandalkan cara konvensional—baik dari sisi kuantitas konten maupun kecepatan produksi.

Baca ini juga :

» Goddess of Victory: NIKKE Umumkan Kolaborasi Bersama Anime Lycoris Recoil
» Shift Up Minta Maaf Soal Artwork yang Dianggap Menghina “Batang” Pria Korea
» Sukses Capai Penjualan 3 Juta Kopi, Shift Up Hadiahkan 300 Pegawai Mereka Nintendo Switch 2!
» Stellar Blade Rilis Demo Via Steam, Bisa Kalian Coba Langsung!
» Shift Up Sedang Memasak Stellar Blade 2, Paling Lambat Diumumkan 2027

Alih-alih melihat AI sebagai musuh tenaga kerja, Kim justru memposisikannya sebagai alat amplifikasi. Menurutnya, adopsi AI secara luas bukan berarti menggantikan manusia, melainkan memperluas kapasitas mereka. Ia menyampaikan gagasan bahwa di masa depan, setiap pekerja harus mampu memanfaatkan AI agar produktivitas satu orang bisa menyamai puluhan, bahkan ratusan orang.


Dengan kata lain, AI dianggap sebagai satu-satunya cara realistis untuk menutup jurang antara Korea Selatan dan negara-negara dengan industri raksasa seperti Tiongkok dan Amerika Serikat—tanpa harus mengorbankan lapangan pekerjaan.

Pandangan Kim mendapatkan dukungan langsung dari Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan, Chae Hwi-young. Ia menyebut bahwa sejumlah perusahaan game besar di dalam negeri sudah mulai mengembangkan teknologi AI mereka sendiri, sekaligus merancang skema agar studio kecil dan menengah bisa ikut berkembang, bukan tertinggal.


Lebih jauh, pemerintah juga berencana memberikan dukungan finansial untuk mendorong transformasi berbasis AI di industri kreatif, dengan fokus investasi yang dijadwalkan mulai digelontorkan pada 2026.

Di tengah perdebatan global soal etika dan dampak AI, pernyataan Kim Hyung-tae menunjukkan satu hal dengan jelas: bagi industri game Korea Selatan, AI bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis jika ingin tetap relevan dan kompetitif di pasar dunia.

TAGS

Jika ingin mengirim artikel, kerjasama event dan memasang Iklan (adverstisement) bisa melalui email redaksi[at]kotakgame.com atau Hotline (021) 93027183
rekomendasi terbaru