




Sang G.O.A.T kembali jadi sorotan. Bukan karena trofi atau performa luar biasa di panggung turnamen, melainkan sikap tegasnya dalam menjaga integritas Ranked Match League of Legends.
Baca ini juga :
» BTR dan RRQ Dikabarkan Tertarik Masuk MPL Malaysia, Siapa Menyusul?
» BHAP! Kolom Komentar Instagram TLID Drichel Diserbu Hujatan Usai Tumbangkan RRQ Hoshi
» Ini Dia 18 Tim yang Siap “Perang Jumpshoot” di FFWS SEA 2026 Spring
» Oheb Livestream Sl*t di Facebook Usai Tinggalkan Scene MLBB, Picu Pro dan Kontra
» NiceGang & Kingdom Jadi Satu, Bigmo Resmi Jadi Brand Ambassador Team RRQ
Dalam sesi Solo Queue High Elo di server Korea, Faker secara terbuka melaporkan Feather, pemain dari ThunderTalk Gaming, yang satu tim dengannya. Feather diketahui bermain sebagai Rakan dan dinilai melakukan trolling, mulai dari tidak memberikan cover di momen krusial hingga akhirnya AFK dan meninggalkan permainan.
Menariknya, Faker tidak hanya melaporkan sekali. Ia menggunakan sistem in game report sebanyak dua kali untuk memastikan perilaku tersebut tercatat. Bagi Faker, tindakan seperti ini bukan sekadar soal kalah atau menang dalam Ranked Match, melainkan soal rasa hormat terhadap League of Legends dan pemain lain yang sama sama berjuang menaikkan peringkat.
Sikap ini sejalan dengan reputasi Faker yang selama bertahun tahun dikenal profesional, disiplin, dan menjunjung tinggi sportivitas, baik di kompetisi resmi maupun Solo Queue.
Insiden ini kembali memanaskan isu klasik di Ranked Korea, di mana sejumlah oknum, termasuk pemain pro lintas region, kerap dianggap merusak kualitas permainan. Server Korea sendiri dikenal sebagai salah satu Solo Queue paling kompetitif di dunia, sehingga tindakan trolling atau AFK sering mendapat sorotan tajam dari komunitas.
Dengan nama besar Faker yang terlibat, perhatian publik pun langsung tertuju pada nasib Feather. Jika laporan tersebut terbukti valid, bukan tidak mungkin sanksi dari Riot Games akan dijatuhkan. Selain itu, konsekuensi dari pihak League of Legends Pro League juga bisa menanti, mengingat Feather merupakan pemain aktif di liga tersebut.
Kasus ini mempertegas pesan bahwa Ranked Match, khususnya di level tertinggi, bukan tempat untuk bermain main. Sikap Faker seolah mengingatkan bahwa status sebagai pemain pro justru membawa tanggung jawab lebih besar untuk memberi contoh yang baik.
Kini, komunitas menunggu langkah lanjutan dari Riot Games dan pihak terkait. Apakah hukuman berat perlu dijatuhkan demi menjaga sportivitas Ranked, atau cukup dengan sanksi ringan sebagai peringatan?
Recommended by Kotakgame
Srikandi Dunia Esports Indonesia! Inilah Dere...
BTR dan RRQ Dikabarkan Tertarik Masuk MPL Mal...