




Perjalanan Artaman RTM di ajang Tekken World Tour 2025 harus berhenti di fase Top 32 Last Chance Qualifier. Meski belum berhasil menembus babak final utama, performanya tetap menjadi pencapaian penting bagi Indonesia, terutama untuk skena fighting game yang semakin kompetitif sejak era Tekken 8.
Baca ini juga :
» BTR dan RRQ Dikabarkan Tertarik Masuk MPL Malaysia, Siapa Menyusul?
» BHAP! Kolom Komentar Instagram TLID Drichel Diserbu Hujatan Usai Tumbangkan RRQ Hoshi
» Ini Dia 18 Tim yang Siap “Perang Jumpshoot” di FFWS SEA 2026 Spring
» Oheb Livestream Sl*t di Facebook Usai Tinggalkan Scene MLBB, Picu Pro dan Kontra
» NiceGang & Kingdom Jadi Satu, Bigmo Resmi Jadi Brand Ambassador Team RRQ
Artaman RTM datang sebagai perwakilan resmi dari ONIC Esports, membawa ekspektasi besar sebagai satu satunya pemain Indonesia yang mampu menembus panggung TWT 2025. Sejak musim kompetisi dimulai, ia konsisten mengumpulkan poin dari berbagai turnamen dan menunjukkan bahwa Indonesia masih punya daya saing di level global.
Format Last Chance Qualifier dikenal brutal. Sistem bracket padat dengan skema eliminasi membuat setiap pertandingan bernilai hidup mati. Tidak hanya pemain kualifikasi biasa, LCQ juga diisi nama nama besar dari region kuat seperti Korea Selatan, Jepang, dan Pakistan yang gagal lolos lewat jalur poin utama. Artinya, kualitas di fase ini hampir setara dengan main event.
Artaman tampil cukup solid di beberapa laga awal. Eksekusi combo, pemanfaatan Heat system, serta kontrol spacing menjadi senjata utama yang membuatnya mampu bertahan hingga Top 32. Namun ketika memasuki laga penentuan menuju Top 16, tekanan meningkat drastis.
Di level tertinggi Tekken 8, kesalahan kecil bisa berujung fatal. Beberapa momentum krusial seperti whiff punish yang tidak maksimal dan defensive read yang sedikit meleset menjadi pembeda tipis antara menang dan kalah. Gap yang terlihat bukan soal skill dasar, tetapi konsistensi dan decision making di momen kritis.
Meski hasilnya belum sesuai harapan, pencapaian Top 32 LCQ tetap layak diapresiasi. Dalam beberapa musim terakhir, Indonesia jarang memiliki representasi konsisten di panggung global Tekken. Kehadiran Artaman RTM di TWT 2025 menjadi bukti bahwa regenerasi dan kualitas latihan mulai menunjukkan hasil.
Bagi ONIC Esports, partisipasi ini juga memperkuat komitmen mereka di ranah fighting game. ONIC tidak hanya fokus pada MLBB atau Valorant, tetapi juga serius membangun divisi FGC agar bisa bersaing secara internasional.
Ke depan, tantangan terbesar adalah exposure internasional yang lebih intens. Meta Tekken 8 berkembang cepat dan region kuat punya kultur latihan yang sangat kompetitif. Jika dukungan bootcamp luar negeri dan scrim lintas region diperkuat, peluang untuk menembus Top 16 bahkan Top 8 di musim berikutnya bukan hal mustahil.
Langkah Artaman RTM memang terhenti di Top 32, tetapi ia sudah membuktikan bahwa Indonesia masih punya tempat di peta dunia Tekken. Sekarang, tinggal bagaimana momentum ini dijaga agar tahun depan targetnya bukan sekadar lolos, tetapi benar benar berbicara di panggung utama.
Recommended by Kotakgame
Srikandi Dunia Esports Indonesia! Inilah Dere...
BTR dan RRQ Dikabarkan Tertarik Masuk MPL Mal...