




Jensen Huang lagi-lagi bahas DLSS 5, tapi kali ini tone-nya jauh lebih halus dan “manusiawi” dibanding pernyataannya di GTC 2026 kemarin. Kalau sebelumnya dia sempat bilang gamer “completely wrong” soal kritik DLSS 5, sekarang bos NVIDIA itu justru ngaku dia juga gak suka “AI slop” dan paham kenapa banyak pemain ngerasa visual game jadi mirip-mirip semua gara-gara AI.
Jensen Huang softens DLSS 5 response, says “I don’t love AI slop myself” https://t.co/6aRVnKldYn
— VideoCardz.com (@VideoCardz) March 23, 2026
Di podcast bareng Lex Fridman, Jensen dengan santai bilang kalau dia sendiri gak nge-fans sama konten AI yang feel-nya generik, seragam, dan kehilangan ciri khas. Dia nyebut fenomena di mana hasil generative AI makin lama makin keliatan sama, meskipun teknisnya “indah”, dan dari situ dia ngaku cukup empati sama kekhawatiran gamer. Buat komunitas yang beberapa hari terakhir rame nge-meme-in “AI slop”, ucapan ini jelas kerasa kayak damage control yang lumayan telat, tapi tetap menarik buat dibedah.
Walaupun bahasanya lebih lembut, inti pesan Jensen soal DLSS 5 sebenarnya masih sama: teknologi ini, menurut dia, bukan filter sulap yang nempel di akhir frame, tapi sistem “3D-conditioned” dan “3D-guided” yang ngikutin struktur dunia 3D game. Dia ngeklaim DLSS 5 bekerja berdasarkan data ground-truth dari geometri dan tekstur yang dibuat artis, lalu tugas AI cuma “meningkatkan”, bukan mengubah niat artistik. Setiap frame, kata dia, tetap setia sama geometri dan art style yang sudah dirancang tim kreatif.
Masalahnya, klaim itu gak sepenuhnya nyambung dengan informasi teknis yang sudah beredar. NVIDIA sendiri sebelumnya mengonfirmasi bahwa DLSS 5 tetap menggunakan input berupa frame 2D plus motion vectors, bukannya langsung ngunyah data 3D mentah. Jadi, meskipun pipeline-nya bisa “dilatih” dengan konteks 3D, di praktiknya kita tetap bicara soal proses rekonstruksi dari gambar 2D yang sudah jadi, bukan sihir langsung dari dunia 3D. Di sinilah banyak gamer dan teknisi ngerasa NVIDIA agak terlalu agresif memasarkan DLSS 5 sebagai sesuatu yang lebih “murni 3D” daripada kenyataannya.
Baca ini juga :
» Era Baru Produktivitas: Mengapa Perusahaan Mulai Beralih ke AI PC dan Agentic AI?
» 20 Tahun Dominasi ROG: Evolusi Inovasi Gaming yang Menggebrak Computex 2026
» [VIDEO] Gak Usah Jual Ginjal! Solusi Rakit PC Pas Harga RAM Lagi Sakit Jiwa | ASUS TUF Gaming T500
» ASUS Luncurkan Jajaran Copilot+ PC 2026 di Indonesia
» Gak Usah Jual Ginjal! Solusi Rakit PC Pas Harga RAM Lagi Sakit Jiwa | ASUS TUF Gaming T500
Hal menarik lain, Jensen juga sempat buka wacana masa depan DLSS 5 yang kedengerannya cukup menggoda buat developer: model yang bisa dilatih custom dan diarahkan ke gaya visual tertentu, termasuk rendering yang lebih stylized. Ia menggambarkan skenario di mana dev bisa “nge-prompt” DLSS 5: misalnya minta output mirip toon shader, atau gaya tertentu yang konsisten dengan art direction game. Intinya, NVIDIA ingin menjual DLSS 5 sebagai alat generative AI yang justru memperkuat identitas visual karya, bukan menghapusnya.
Di sisi lain, kekhawatiran komunitas tetap valid: begitu AI punya peran besar dalam membentuk tampilan akhir game, batas antara “karya artis” dan “karya model” makin kabur. Kalau tiap vendor punya model dan implementasi sendiri, potensi fragmentasi visual antar GPU juga kebayang: game yang kamu lihat di satu kartu grafis bisa beda feel-nya di vendor lain. Ditambah tren industri yang makin doyan jualan buzzword AI, wajar kalau gamer curiga DLSS 5 lebih condong ke arah “slop ekonomis” ketimbang alat kreatif murni.
Pada akhirnya, pernyataan baru Jensen ini kerasa seperti upaya nge-rem impresi bahwa NVIDIA cuek sama kekhawatiran gamer. Dia mau nunjukkin kalau mereka sadar isu “AI slop”, sambil tetap mendorong DLSS 5 sebagai masa depan rendering yang terintegrasi erat dengan pipeline kreatif developer. Tinggal sekarang, apakah implementasi nyata di game beneran bisa ngeyakinin komunitas kalau DLSS 5 itu alat bantu, bukan mesin homogenisasi visual yang bikin semua game terasa dari pabrik yang sama.
Recommended by Kotakgame
Srikandi Dunia Esports Indonesia! Inilah Dere...
Era Baru Produktivitas: Mengapa Perusahaan Mu...