NEWS

Producer Resident Evil Requiem Senang Fans Geram Dengan Grace Versi AI DLSS 5

Adithya Mahesa   |   Selasa, 05 May 2026


Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Teknologi grafis terbaru dari Nvidia, yakni DLSS 5, langsung jadi bahan perdebatan sejak diperkenalkan pada Maret lalu. Alih-alih mendapat pujian karena janji visual yang lebih realistis, fitur ini justru menuai kritik karena dianggap mengubah tampilan karakter secara drastis—bahkan sampai terasa “tidak natural”.

Salah satu contoh yang paling ramai dibicarakan datang dari Resident Evil Requiem, khususnya karakter baru Grace. Versi DLSS 5 dari Grace dianggap berbeda jauh dari desain aslinya, memicu gelombang meme dan kritik dari komunitas. Banyak pemain merasa karakter tersebut kehilangan identitas visualnya akibat “sentuhan AI” yang terlalu agresif.

Menariknya, reaksi negatif ini justru dilihat sebagai hal positif oleh pihak developer. Mereka menilai kuatnya respons pemain menunjukkan bahwa desain original Grace sudah berhasil dan diterima dengan baik sebagai karakter baru—bahkan di tengah dominasi karakter ikonik seperti Leon S. Kennedy. Dalam game, Grace sendiri hadir dengan pendekatan gameplay yang lebih menegangkan dan penuh tekanan, menjadi kontras dari gaya aksi Leon yang lebih eksplosif.

Di sisi lain, laporan juga menyebut bahwa beberapa developer, termasuk dari Capcom dan Ubisoft, justru tidak mengetahui bahwa game mereka akan ditampilkan dalam showcase DLSS 5. Hal ini menambah kontroversi, apalagi Capcom sebelumnya dikenal cukup berhati-hati terhadap penggunaan teknologi berbasis AI dalam pengembangan game mereka.

Meski kritik terus berdatangan, CEO Nvidia, Jensen Huang, menilai reaksi tersebut sebagai kesalahpahaman. Ia menjelaskan bahwa banyak pemain belum sepenuhnya memahami cara kerja teknologi ini secara teknis. Namun, bagi sebagian gamer, masalahnya bukan soal teknis—melainkan soal preferensi visual dan keinginan untuk mempertahankan karakter tetap sesuai dengan desain aslinya.

Baca ini juga :

» Resident Evil Requiem Kasih Update Mini Games: Leon Must Die Forever!
» Director Resident Evil Requiem Sebut Leon Masih Bisa Beraksi Di Usia 70 Tahun
» Kakek Berusia 91 Tahun Namatin Resident Evil Requiem Tanpa Nyontek Guide, Kok bisa ya?
» Leon Gunakan Cincin di Resident Evil Requiem, Sudah Menikah?
» Review Resident Evil - Berhasilkah Capcom Gabung Banyak Esensi RE di Satu Game?

Perdebatan ini menunjukkan satu hal penting: di era teknologi grafis yang semakin canggih, realisme bukan selalu jadi prioritas utama. Bagi banyak pemain, identitas visual dan “rasa” karakter tetap jauh lebih penting daripada sekadar peningkatan teknis.

TAGS

Jika ingin mengirim artikel, kerjasama event dan memasang Iklan (adverstisement) bisa melalui email redaksi[at]kotakgame.com atau Hotline (021) 93027183
rekomendasi terbaru