




Ada banyak hal yang harusnya bikin My Hero Academia: All’s Justice jadi penutup yang solid banget. Roster yang banyak dan gede banget, Final War Arc, fan service di mana mana, sampai voice actor anime asli yang balik lagi. Mungkin bisa dibilang ini kayak game My Hero paling ambisius sejauh ini.
Masalahnya, setelah dimainkan, ada cukup banyak momen yang rasanya… janggal.
Baca ini juga :
» [VIDEO] Saat ArcSys Menyulap Marvel Menjadi Mahakarya Fighting Modern - Review Marvel Tōkon: Fighting Souls
» Yu Yu Hakusho Live Action Resmi DIbuat, Setting di Arc 'Demon Plane Unification Tournament
» Satu Dekade AFAID 2026: Intip Line-up Pengisi Acara, Bintang Tamu, dan Harga Tiketnya!
» Dari Naruto Hingga Nobita: Fenomena Penggunaan Nama Anime Warga Indonesia
» Pakai IP Anime dan Game Jepang Untuk Meme dan Politik, Amerika Ditegur Pemerintah Jepang
Bukan janggal karena gamenya jelek. Justru sebaliknya, game ini kelihatan tahu apa yang pengen dibuat atau dijadikan, tapi seringkali malah kepleset di eksekusinya sendiri. Ada momen di mana game ini seru abis dan bikin nagih, tapi di saat yang sama juga sering bikin mikir, “ini beneran didesain kayak gini, atau gua yang skill issue?”
Sebagai penutup trilogi One’s Justice, My Hero Academia: All’s Justice memang terasa lebih besar dan lebih niat. Tapi makin lama dimainkan, makin kelihatan kalau banyak keputusan desainnya yang bukan cuma bikin sulit, tapi aneh dan tidak fair.
Story Mode yang Berpotensi Besar, Tapi Terasa Janggal

Sebagai game yang tujuannya mengangkat Final War Arc, My Hero Academia: All’s Justice jelas dikasih ekspektasi yang besar. Ini itu puncak dari segala yang terjadi di My Hero Academia, momen di mana hampir semua karakter penting akhirnya saling berhadapan, dan secara teori, ini harusnya jadi bagian paling emosional dan paling epik dari game ini.
Sayangnya, saat masuk ke story mode, hal pertama yang terasa justru pacing-nya yang malah kerasa janggal.
Campaign utamanya bisa selesai sekitar lima jam, dan sangat terasa kalau ceritanya dipaksa masuk ke durasi yang pendek itu. Banyak pertarungan penting yang di anime butuh beberapa episode, di sini cuma lewat dalam hitungan menit. Akibatnya, banyak momen besar sering lewat begitu saja tanpa sempat benar benar terasa dampaknya.
Untuk nutupin keterbatasan durasi itu, game ini banyak mengandalkan dialog yang terus berjalan di tengah pertarungan. Karakter saling ngobrol, refleksi, atau teriakin motivasi sambil pukul pukulan. Di satu sisi niatnya bagus, tapi di sisi lain ini bikin cerita terasa terburu buru dan kurang fokus. Bukannya tenggelam dalam drama, pemain malah sibuk bertahan hidup dari serangan musuh.
Yang bikin makin aneh, ada beberapa side story dari arc lama yang ikut diselipkan.Yang kalau kita lihat secara konteks, ini sepertinya tidak perlu. Saat ceritanya sendiri sudah keburu diburu-buru, memasukkan potongan cerita lama justru bikin alurnya makin tidak rapi dan beberapa kali rasanya kehilangan momentum.

Presentasi ceritanya juga tidak konsisten. Di beberapa momen penting, game ini bisa tampil sangat keren lewat in-engine cutscene yang terlihat anime banget. Tapi di momen lain, cerita disampaikan lewat gambar statis yang rasanya seperti slideshow. Perpindahan dari cutscene sinematik ke visual statis ini cukup mengganggu dan bikin pengalaman ceritanya gak menyeluruh.
Ada narator yang sering muncul untuk menjelaskan apa yang sedang atau akan terjadi. Niatnya memang membantu, tapi alih-alih membantu, rasanya seperti game tidak percaya kalau pemain bisa mengikuti ceritanya sendiri. Banyak momen yang sebenarnya bisa disampaikan lewat aksi atau cutscene, tapi malah dijelaskan secara verbal.

Padahal, secara konten cerita, Final War Arc tetap punya daya tarik kuat. Beberapa pertemuan besar tetap terasa sedap, terutama karena dukungan voice acting dari cast asli anime. Sayangnya, karena pacing yang terlalu cepat dan presentasi yang tidak konsisten, story mode di All’s Justice lebih sering terasa seperti rangkuman singkat, dan penuh
Gameplay yang Seru, Cepat, Tapi Terasa Floaty

Di luar segala masalah ceritanya, satu hal yang cukup jelas dari awal adalah My Hero Academia: All’s Justice itu sebenarnya fun untuk dimainkan. Secara feel, game ini terasa lebih cepat dan lebih responsif dibanding One’s Justice 2. Animasi serangan lebih nendang, tempo pertarungan lebih agresif, dan flow kombonya lebih enak buat dipelajari pelan pelan.
Sebagai arena fighter 3D, All’s Justice masih bermain dengan formula yang hampir mirip. Pemain bebas bergerak di arena besar, dash ke segala arah, lompat, ngejar lawan di udara, lalu nutup combo dengan jurus yang sinematik. Buat fans anime, ini jelas memuaskan karena tiap serangan terasa seperti potongan episode yang bisa dikontrol.

Roster karakter yang besar juga ikut menambah keseruan gameplay. Banyak karakter punya gaya bertarung yang beda. Ada yang fokus close range, ada yang zoner, ada yang ribet di setup. Di awal, nyobain satu per satu karakter ini jadi salah satu bagian paling menyenangkan dari game.
Yang jadi masalah adalah semakin lama dimainkan, ada sensasi floaty yang mulai kerasa. Karakter terlalu lama melayang di udara, gravitasi terasa ringan, dan positioning sering kali jadi kurang presisi. Di beberapa situasi, terutama saat lawan aktif dash dan counter, pemain bisa merasa seperti kehilangan kontrol penuh atas ruang dan tempo pertarungan. Jujur, Ini bukan game yang berat dan grounded, tapi kadang kelewat ringan sampai terasa janggal.

Sistem counter juga jadi pedang bermata dua. Secara desain, ini seharusnya jadi alat buat menghukum pemain yang asal spam. Tapi karena timing-nya ketat dan animasi tertentu kurang jelas, sistem ini sering terasa lebih seperti tebakan daripada reaksi. Salah baca sedikit saja, pemain bisa langsung kehilangan momentum.
Di titik tertentu, gameplay mulai terasa repetitif. Setelah menemukan satu atau dua combo yang paling aman dan efektif, rasa untuk bereksperimen jadi berkurang. Bukan karena opsi-nya sedikit, tapi karena sistemnya sendiri seperti mendorong pemain untuk main aman, bukan main kreatif.
Di sisi positifnya, Plus Ultra dan Rising mechanic tetap jadi highlight. Momen ketika jurus besar kena di timing yang pas masih terasa satisfying, apalagi dengan efek visual dan audio yang mendukung. Ini jadi pengingat bahwa di balik semua kekurangannya, All’s Justice tetap tahu cara bikin momen hype.
Secara keseluruhan, gameplay dasar All’s Justice ada di posisi yang agak nanggung. Di satu sisi seru, cepat, dan penuh fan service. Di sisi lain, sensasi floaty dan sistem counter yang terlalu dominan bikin pengalaman bertarungnya sering terasa lebih melelahkan daripada menantang.
AI, Difficulty, dan Momen-Momen yang Terasa Janggal

Masalah terbesar di My Hero Academia: All’s Justice mulai kelihatan jelas pas masuk ke pertarungan yang lebih serius. Bukan di awal, tapi di bagian tengah sampai akhir game, saat difficulty dinaikkan dan AI mulai benar-benar “unjuk gigi”.
Dan jujur, disinilah banyak hal mulai terasa janggal.
Secara teori, peningkatan difficulty seharusnya bikin pemain lebih hati-hati, lebih taktis, dan lebih paham sistem. Tapi yang terjadi di All’s Justice justru sering terasa seperti AI terlalu tahu apa yang akan kita lakukan, bahkan sebelum inputnya benar-benar kejadian. Banyak serangan pemain yang langsung dipatahkan seolah AI membaca input, bukan bereaksi terhadap animasi.
Hal ini paling kerasa lewat movement counter crash.
Ada momen di mana AI berhasil melakukan counter crash berkali-kali secara beruntun, sampai sekitar lima kali tanpa jeda yang masuk akal. Setiap kali pemain mencoba masuk, bergerak, atau sekadar cari posisi aman, counter itu langsung keluar. Akibatnya, tempo pertarungan sepenuhnya dipegang AI, dan pemain tidak diberi ruang untuk reset atau membaca ulang situasi.
Di titik ini, kekalahan terasa bukan karena salah strategi, tapi karena sistemnya sendiri tidak memberi kesempatan yang adil. Counter crash yang seharusnya jadi alat defensif situasional justru berubah jadi senjata utama AI. Ini bikin pertarungan terasa lebih seperti skrip yang harus dilalui, bukan duel yang bisa dimenangkan lewat adaptasi.
Masalah ini diperparah dengan damage AI yang terasa tidak seimbang. Di beberapa pertarungan, AI bisa menghabisi HP pemain hanya dalam beberapa hit, bahkan saat pemain sudah mencoba bermain defensif. Sementara itu, serangan balik dari pemain sering terasa tidak sepadan, seolah scaling damage-nya tidak berada di level yang sama.
Puncaknya ada di pertarungan-pertarungan akhir, terutama final boss. Difficulty melonjak tajam, tapi bukan dengan cara yang elegan. AI punya armor, timing nyaris sempurna, serangan yang minim telegraph, dan hampir tidak memberi celah. Alih-alih menciptakan rasa klimaks, pertarungan ini justru lebih sering memancing frustasi.
Sulit itu wajar. Game fighting memang butuh tantangan. Tapi di All’s Justice, garis antara menantang dan tidak adil sering terasa kabur. Banyak momen kalah yang bukan bikin ingin belajar dan mencoba lagi, tapi justru bikin bertanya, “ini beneran kayak gini?”
Dan ketika pertanyaan itu muncul terlalu sering, di situlah masalah sebenarnya berada.
Kesimpulan
Sebagai penutup trilogi One’s Justice, My Hero Academia: All’s Justice sebenarnya punya semua bahan yang dibutuhkan untuk jadi game My Hero terbaik sejauh ini. Roster besar, Final War Arc, fan service melimpah, dan voice acting dari cast asli anime jadi fondasi yang kuat.
Masalahnya, game ini sering kepleset di eksekusi. Story mode yang terasa terburu-buru, presentasi visual tidak konsisten, dan lonjakan difficulty di bagian akhir lebih sering terasa tidak adil daripada menantang. AI yang terlalu presisi, movement counter crash yang kelewat OP, serta scaling damage yang jomplang membuat banyak pertarungan kehilangan rasa duel dan berubah jadi adu tahan frustasi.
All’s Justice tetap seru dimainkan, terutama dalam sesi singkat dan bagi fans yang ingin melihat momen momen besar Final War dalam bentuk playable. Tapi semakin lama dimainkan, semakin kelihatan bahwa game ini lebih mengandalkan kecintaan pemain terhadap source material daripada desain gameplay yang benar-benar matang.
Ini bukan game yang gagal, tapi juga bukan penutup yang sepenuhnya memuaskan. Ada banyak potensi besar di sini, sayangnya tidak semuanya dimaksimalkan dengan baik.
REVIEW SKOR
Recommended by Kotakgame
Srikandi Dunia Esports Indonesia! Inilah Dere...
[VIDEO] Saat ArcSys Menyulap Marvel Menjadi M...