




Banyak penggemar PlayStation masih penasaran kenapa Sony nekat nutup Japan Studio, studio legendaris yang pernah ngasilin judul-judul ikonik macam Ape Escape, Shadow of the Colossus, sampai Ico. Penjelasan terbarunya justru datang dari mulut Shuhei Yoshida, mantan presiden Sony Interactive Entertainment, yang ternyata juga ngerasa keputusan itu nggak masuk akal.
Shuhei Yoshida says Japan Studio was closed down because PlayStation wanted AAA games, not AA games, and Japan Studio was unable to scale up
— Genki✨ (@Genki_JPN) July 28, 2026
“Players from around the world have said that it's unbelievable that Sony would shut down Japan Studio. Japan Studio released loads of… pic.twitter.com/tXBCD1UEeF
Menurut Yoshida, alasan utamanya adalah Japan Studio dinilai gagal ngasilin game-game skala besar yang bisa jadi magnet penjualan konsol PlayStation 5. Dia bilang, meskipun tim Japan Studio punya banyak ide kreatif, mayoritas game yang mereka buat skalanya lebih kecil atau kategori AA, yang menurutnya lebih cocok buat platform handheld macam PlayStation Vita. Sementara di era PS4 dan PS5, Sony fokus banget ke game-game AAA yang bisa bikin orang beli konsol, kayak God of War atau Uncharted.
Padahal kalau dipikir-pikir, sejak penutupan Japan Studio pada April 2021, Sony sendiri belum ngeluarin game Uncharted baru. Fokus mereka malah ke arah game live-service yang banyak yang nggak laku, yang bikin penjelasan ini terdengar makin aneh. Padahal dulu Japan Studio dikenal sebagai tempat lahirnya game-game unik yang jadi ciri khas PlayStation, termasuk Patapon dan LocoRoco yang sempat jadi daya tarik PSP.
Banyak penggemar yang ngerasa keputusan ini adalah langkah mundur yang bikin Sony kehilangan identitas kreatifnya. Beberapa bahkan bilang kalau game-game kecil itulah yang bikin mereka betah di ekosistem PlayStation, bukan cuma game AAA yang rilis beberapa tahun sekali. Ada juga yang bandingin sama Nintendo yang rutin ngeluarin game-game skala menengah kayak Splatoon atau Rhythm Heaven, yang bikin Switch selalu punya konten segar.
Baca ini juga :
» Playstation Gelar Diskon Sampai 75%, di Playstation Store
» Cantik Trus Vibenya PS2 Banget, Game Duskfade Rilis Bikin Nostalgia Lagi
» Ghost of Yōtei Complete Edition Resmi Hadir di PS5 pada 1 Oktober 2026
» PlayStation Unjuk Gigi! Konsol dan Aksesori PS5 Marvel's Wolverine Limited Edition Resmi Diumumkan
» Steam Deck Kini Bisa Streaming Game PS5 Tanpa Perlu Punya Konsol
Yoshida sendiri mengakui bahwa waktu itu dia sempat khawatir sama nasib para pengembang di Japan Studio, termasuk Keiichiro Toyama, sutradara Gravity Rush dan Silent Hill. Tapi menurut dia, tekanan korporat buat ngasilin game-game blockbuster yang bisa dorong penjualan hardware akhirnya jadi prioritas utama Sony. Ironisnya, strategi ini justru bikin PlayStation makin jarang ngeluarin game baru, sementara pemain yang udah punya konsol jadi nunggu-nunggu lama tanpa konten yang cukup.
Kasus penutupan Japan Studio ini jadi pelajaran pahit buat industri game secara keseluruhan, di mana kreativitas dan eksperimen sering kali kalah sama logika bisnis jangka pendek. Banyak yang berharap Sony bisa balik ke akar mereka, yang pernah bikin PlayStation jadi rumah buat game-game unik dan berisiko tinggi. Kalau nggak, jangan-jangan generasi berikutnya bakal lebih milih platform lain yang lebih menghargai keberagaman konten, bukan cuma game yang bisa jual konsol.
Gimana? menarik banget, kan? selain artikel ini, KotakGame juga ada video seru loh, yuk lah tonton!
Recommended by Kotakgame
Srikandi Dunia Esports Indonesia! Inilah Dere...
Playstation Gelar Diskon Sampai 75%, di Plays...