




Shift Up lagi jadi sorotan gara gara musik video baru buat sekuel Stellar Blade yang penuh elemen AI dan bikin banyak fans kecewa berat. Musik videonya sendiri sebenarnya lumayan catchy, tapi cara eksekusinya yang serba generatif bikin banyak orang langsung nyebutnya sebagai AI slop.
“Wanna be in LOVE” feat. EVIE
— Kim Hyung Tae, 김형태, キム・ヒョンテ (@jamm3rd) July 31, 2026
from Stellar Blade : BLOODRAIN official original Song MUSIC VIDEO 4K💗#StellarBlade #BLOODRAIN #Shiftup #EVIE #OST #kpop #Idol #Enjoy pic.twitter.com/C9zU1YN4wz
Studio Korea di balik Stellar Blade ini baru saja merilis musik video untuk lagu Wanna Be in Love yang jadi bagian dari Stellar Blade Blood Rain, dengan karakter baru bernama Evie sebagai pusat perhatian. Di video itu, Evie tampil di kota bernuansa China futuristik, nyanyi pop sambil jalan dan berinteraksi dengan lingkungan yang penuh neon dan gedung tinggi. Secara konsep, kota dan identitas visualnya kuat, terinspirasi suasana urban Chongqing dan juga vibe monster building ikonik dari Hong Kong yang padat dan menjulang. Buat yang suka estetika cyberpunk Asia, setting ini sebenarnya punya potensi besar.
Masalah muncul begitu orang sadar kalau video ini bukan hasil kerja tim CG konvensional, tapi produk divisi AI Labs milik Shift Up yang memang fokus di generative AI. Hasilnya punya semua ciri khas AI generatif yang selama ini bikin orang merinding mulai dari ekspresi wajah yang masuk zona uncanny valley sampai detail visual yang ngaco seperti gerakan yang kurang natural dan sinkronisasi bibir yang aneh saat Evie bernyanyi. Di mata banyak fans, video ini terasa lebih seperti eksperimen teknologi daripada karya seni yang dipoles habis habisan oleh para seniman yang selama ini jadi kebanggaan studio.
Hal yabf bikin panas suasana, bos Shift Up Hyung Tae Kim yang dikenal sebagai ilustrator dan artist mumpuni malah mengajak followers di X buat nonton video ini dan memberikan komentar. Ajakan itu dijawab cukup keras oleh salah satu akun fan terbesar Stellar Blade yang nanya dengan nada kecewa di mana letak artistry dari perusahaan yang katanya didirikan dan dijalankan oleh para artist. Mereka bilang tidak bisa tidak merasa sangat kecewa melihat konten resmi untuk fans justru bergantung pada generative AI. Kata kata profoundly disappointed dari fan account ini langsung jadi kutipan utama yang banyak dibahas di komunitas.
Baca ini juga :
» AI itu Alien Intelegent? Mengapa Bill Gates Menilai Pemerintah Global Gagal Bersiap
» Dikira Rongsokan, Server Bekas di Garasi Ini Ternyata Berisi RAM DDR4 Senilai Puluhan Juta
» Ekosistem AI Lenovo & Motorola Qira: Hadir di Lebih Banyak Perangkat, Wearable, dan Aplikasi Harian!
» Satu AI Personal untuk Semua Perangkat: Strategi Hybrid AI Lenovo Kian Nyata
» NVIDIA Akuisisi Hugging Face Senilai Rp 227 Triliun, Janjikan Ekosistem AI Tetap Terbuka
Di sisi lain, bahkan penulis berita aslinya mengakui kalau lagunya sendiri enak didengar, tipikal produksi musik Shift Up yang memang jarang mengecewakan. Identitas visual Blood Rain juga dianggap menarik karena berhasil menangkap nuansa kota padat dengan rasa urban yang khas, yang kalau digarap secara tradisional bisa jadi salah satu daya tarik besar sekuel ini. Namun kekuatan musik dan dunia yang keren jadi tertutup oleh reaksi negatif terhadap cara penyajiannya yang terlalu bertumpu pada AI. Banyak yang merasa ada disconnect antara kualitas audio dan visual yang terasa dingin dan tanpa jiwa.p
Musik video ini bukan insiden tunggal, karena trailer pengenalan Blood Rain sebelumnya juga sudah dikritik karena sarat dengan aset generative AI. Dari situ, muncul anggapan kalau Shift Up sekarang all in di jalur AI, dan besar kemungkinan elemen serupa bakal muncul lebih jauh di dalam game final nanti. Beberapa komentar di komunitas langsung menganggap ini sebagai tanda bahwa Blood Rain akan penuh dengan konten generatif, dari teks sampai aset visual yang tidak dikerjakan manual oleh artist. Untuk fans yang menaruh harapan tinggi pada seri Stellar Blade, hal ini terasa seperti pukulan telak terhadap ekspektasi mereka.
Ada juga konteks budaya yang disorot, yaitu bagaimana Korea tampaknya punya hubungan yang berbeda dengan generative AI dibanding banyak negara lain. Penggunaan AI di sana terlihat lebih santai dan cepat diadopsi, termasuk di ranah entertainment dan game, sehingga eksperimen seperti musik video Evie ini mungkin terasa normal di lingkungan lokal mereka. Tapi di pasar global, terutama komunitas gamer yang sensitif soal hak seniman dan orisinalitas karya, pendekatan seperti ini memicu resistensi kuat. Bagi sebagian fans, langkah Shift Up dianggap mengkhianati reputasi artis dan desainer yang dulu jadi alasan mereka jatuh cinta pada Stellar Blade.
Gimana? menarik banget, kan? selain artikel ini, KotakGame juga ada video seru loh, yuk lah tonton!
Recommended by Kotakgame
Srikandi Dunia Esports Indonesia! Inilah Dere...
AI itu Alien Intelegent? Mengapa Bill Gates M...