NEWS

[Kisah Vainglory] Fortres, Penyihir Tua, dan Sosok Ibu

ClockWorange   |   Selasa, 03 Apr 2018


Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!
Penyihir tua dengan sosok yang berkuasa, tanduk muncul dari pelindung kepalanya, jubah bulu menggantung dari bahu sampai kaki. Sebelum dia berdiri di pohon raksasa itu, cabang-cabangnya menutupi cahaya di langit, batangnya sangat besar sehingga butuh 10 orang untuk bisa mengelilinginya lebarnya, wajah dari Ibu terukir di sana.

"Anak buahku telah membawamu dengan kereta melewati kumpulan salju beberapa hari ini," gerutu Fortress.

"Kenapa kau masih belum membuka pintu di pohon itu? Apa kau lupa caranya?"

"Sabar, anjing tua. Dia sedang bingung dan harus ditenangkan."

"Sudah terlalu banyak musim sejak kau menenangkan wanita," Fortress mengaum.

Penyihir tua itu tersenyum. "Ada kiasan. Tatapan gadis haruslah kuat, tapi ibu, adalah perut yang lapar." Di bawah pohon itu dia menggali salju, menemukan biji hijau, dia mengupas kulitnya dengan tongkatnya, lalu menggigitnya. "Mari kita lihat makanan apa yang Ibu miliki untuk kita," dia berkata, sambil menyuapkan satu pada Fortress.

Baca ini juga :

» Update Terbaru Vainglory! Cross-Platform, Pemain PC dan Smartphone Akan Ketemu Dalam Satu Game
» Super Evil Megacorp akan Menghadirkan Vainglory Versi Windows dan Mac Awal Tahun 2019
» Tak Ingin Tertinggal, Secara Resmi Vainglory akan Hadir di Platfom PC!
» Hero Baru Vainglory, Anka si Assassin Lincah dengan Dagger Mematikannya!
» [Kisah Dragon Nest] Awal Mula Munculnya Sebutan Six Heroes

Mereka menunggu dengan keheningan, berdampingan. Dia bersandar pada batang pohon itu. Pandangannya buram. Dunia menjadi gelap. Fortress, juga, bertarung melawan sakit yang ingin mengambil alih dirinya. Sensasinya seperti tetesan air dari ujung es, yang akan membuat nyawanya melayang.

"Kenapa mempunyai anak yang sangat jauh dari rumahnya?"

Suara datang dari dalam pohon. Penyihir mencari wajah Ibu dan menemukannya jauh di atasnya, mata tajamnya melihat ke bawah.

"Aku datang untuk memohon perjalanan ke dunia belahan lain, Ibu," dia berkata, suaranya tinggi dan melengking. Dia terlihat aneh dengan jubah bulunya, yang terlihat mulai menutupi dirinya. Jenggotnya telah hilang. Bahkan tanduk di pelindung kepalanya menjadi pendek. Dimana penyihir itu berdiri, Fortress melihat seorang anak laki-laki.

Cabang-cabang muncul dari batang untuk menyentuh wajah anak itu. "Sudah sangat lama sejak aku menyentuh seorang anak," suara dari dalam pohon.

"Kawan-kawanmu boleh pergi, tapi kau akan terus bersamaku."

"Tidak!" Fortress mencoba untuk maju tapi dia serasa bergerak di dalam lumpur.

Anak itu memeluk serigala mengerikan itu, mengubur wajahnya di dalam bulu tebal dari leher Fortress, mengelus hidung dan telinganya. "Pergilah, anjing tua. Ini adalah jalan satu-satunya." Lalu, tubuhnya masuk ke dalam pelukan cabang-cabang itu.

Seekor serigala melolong, kemudian diikuti lolongan yang lain. Fortress mundur dari kawan lamanya. "Panggil jiwa dari kawan-kawan kita yang telah tewas," dia memerintah, lalu mengulurkan lehernya ke bulan dan melolong dengan penuh kesedihan. Yang lainnya mengikuti, bersamaan dengan lolongan itu, Ibu terus mengikatkan cabangnya pada penyihir tua sampai dia terjepit pada batang pohonnya.

Serigala-serigala melihat wajah dari Ibu berubah menjadi lubang yang luas. Aroma lembab tercium dari dalamnya, Fortress mendekat, belum yakin, mendengus-dengus. Di dalam, tangga kayu spiral terlihat kebawah menuju kegelapan.

Akan berlanjut...

(KotakGame)

TAGS

Jika ingin mengirim artikel, kerjasama event dan memasang Iklan (adverstisement) bisa melalui email redaksi[at]kotakgame.com atau Hotline (021) 93027183
rekomendasi terbaru