NEWS

[Kisah Vainglory] Phinn dan Blackfeather Chapter 2: Putri yang Ingin Diculik?

ClockWorange   |   Senin, 19 Feb 2018

Suara dari balkoni yang terkena cakar besar Phinn terdengar sangat mengganggu. Blackfeather mengeluarkan pedangnya sebelum masuk ke kamar Putri Malene yang berhiaskan perabotan antik dan banyak sutera. Putri duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu mahoni, gaunnya terlihat menggembang, memandang wajah mudanya yang cantik di sebuah cermin perak. Cermin itu memantulkan bayangan dari penculiknya, namun dia tidak terkejut, dia justru hanya mengangkat alisnya ketika Blackfeather mengambil mawar dari giginya.

Baca ini juga :

» [Kisah Dragon Nest] Awal Mula Munculnya Sebutan Six Heroes
» [Kisah Dragon Nest] Desert Dragon, Kekuatan Cinta yang Membunuh
» [Kisah Dragon Nest] Rose, Gadis yang Memiliki Kekuatan Ancient
» [Kisah Dragon Nest] Serpentra, Naga Buatan Para Ancient yang Hilang Kendali
» [Kisah Dragon Nest] Argenta, Sage Arno, dan Silver Dragon Jewel

"Tidak ada gunanya melawan, Putri. Aku datang untuk …"

"Culik aku. Untuk hadiah tebusan." Sang putri berdiri, dia menghaluskan roknya dan menendang kursinya. "Kau begitu lama."

Mawar Blackfeather jatuh ke karpet yang sangat mewah. "Apa kau tidak ingin menjerit? Putri macam apa yang tidak menjerit?"

"Tentu aku akan menjerit. Aku bukan amatiran. Tetapi kalau aku menjerit terlalu cepat, para penjaga akan … AAAHHmmmmff!"

Dengan loncatan yang cepat, Blackfeather membungkam mulut Putri Malene dengan tangannya dan Phinn membungkuk agar muat di pintu balkoni. "Apa kita sedang bercanda atau melakukan penculikan?" Phinn mengomel.

Sang putri menyisihkan tangan Blackfeather dari mulutnya. "Apa itu?"

"Itu, ketidakberdayaanmu yang mulia, makhluk dari sungai, penculikmu yang kedua."

"Dan si tampan," putri bergumam, yang mencoba untuk menjauh dari Blackfeather tapi dihalau dengan pedang di lehernya.

"Aku akan menghiraukannya, melihat kau menderita trauma yang luar biasa."

Phinn melangkah dengan lambat ke sebuah sangkar burung berlapis emas, di dalamnya terdapat seekor burung kecil putih."Itu burung yang langka. Apakah ini Trostanian putih?" dia bilang, lalu bersiul.

"Jelas sekali. Salah satu dari lima puluh yang tersisa di dunia."

"Sangat cantik. Tidak seharusnya di dalam sangkar. Siapa namanya?" Phinn membuka sangkarnya dan burung itu melompat ke atas kepalanya.

Blackfeather kembali menodong dengan gayanya yang penuh petualangan, gagah berani dan mulai lagi. "Tidak ada gunanya melawan! Ayo kita pergi!"

Sang putri bergerak dengan cepat melewati Phinn dan peliharaan barunya untuk menggeledah laci lainnya."Coocoo D’Etat."

Blackfeather terlihat lemas. "Ah .. apa?"

"Itu adalah nama burung ini."

Phinn menggelengkan kepalanya. "Aku tidak suka. Aku akan menamainya Susie, seperti nama pamanku."

"Tidak ada gunanya melawan!" Blackfeather mencoba yang ketiga kalinya. "Ayo kita …"

"Aku tidak akan pergi tanpa cincinku," kata Putri Malene. "Bagaimana kau akan membuktikan kalau kalian menculikku jika kalian tidak memiliki catatan penebusan dengan tanda kerajaanku?"

"Catatan penebusan?" tanya Phinn.

"Catatan penebusan?" tanya Blackfeather.

Putri mengeluh. "Apa diantara kalian tidak tahu apa-apa tentang penculikan, sedikitpun?"

Phinn dan Blackfeather melihat satu sama lain, lalu ke putri lagi.

"Tidak ada gunanya melawan," kata Blackfeather, suaranya lebih pelan kali ini.

"Ah! Itu dia." Putri Malene mengenakan cincinnya, dia berpaling dan menjerit. Phinn mengernyit. Blackfeather melompat. Lalu burung membuang kotoran di kepala Phinn. "Tidak! Tolong! Jangan bawa aku! Aku akan memberimu apa saja!" Dia mengayunkan tangannya dan menjatuhkan lampu tidur. "Kalian berandalan kotor! Kalian binatang! Lepaskan aku!"

Para penjaga mendobrak pintu dan ketiga orang itu bergerak cepat ke balkoni, Putri Malene menjerit saat dia turun dengan rantai, berpegangan pada leher Phinn. Saat mereka mendarat di labirin berduri, dia menghaluskan roknya dan melihat tajam ke dalam kegelapan. "Ke arah mana tempat persembunyian kalian?"

"Ini seperti kau yang menginginkan penculikanmu sendiri," Blackfeather mengeluh.

"Tentu saja, tidak ada putri sejati tanpa pernah diculik untuk tebusan."

"Sepertinya adil," kata Phinn sambil menarik rantai jangkarnya.

Suara mesin dan gonggongan anjing dalam jarak yang cukup dekat membuat mereka bertiga lari ke dalam labirin tanpa ada percakapan lagi.

(KotakGame)

TAGS

Jika ingin mengirim artikel, kerjasama event dan memasang Iklan (adverstisement) bisa melalui email redaksi[at]kotakgame.com atau Hotline (021) 93027183
rekomendasi terbaru