NEWS

SpaceX Kembangkan Starlink Mini dengan Harga Lebih Murah, Berpotensi Timbulkan Predatory Price?

Rahmat Handiko    |   Jumat, 21 Jun 2024


Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Rencana peluncuran perangkat Starlink Mini yang lebih murah diyakini akan semakin memperkuat dominasi Elon Musk dalam menentukan harga internet di Indonesia. Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) melihat bahwa Starlink Mini berpotensi besar mengganggu industri telekomunikasi domestik.

Perangkat Starlink Mini dikabarkan berukuran 11,4 inci x 9,8 inci, sehingga mudah dibawa dalam ransel. Perangkat ini akan diluncurkan di wilayah tertentu.

Di Amerika Serikat (AS), SpaceX menetapkan harga perangkat keras standar V4 Starlink sebesar US$499 atau sekitar Rp8,18 juta (kurs Rp16.406 per dolar AS). Hal ini menunjukkan bahwa Starlink Mini bisa dijual dengan harga sekitar US$250 atau sekitar Rp4,1 juta.

Jika Starlink Mini diperkenalkan di Indonesia, harganya bisa mencapai sekitar Rp2,95 juta dari harga aslinya yang sekitar Rp5,9 juta. Ketua Umum APJATEL, Jerry Siregar, memperkirakan bahwa Starlink akan mempengaruhi harga bandwidth, terutama di perkotaan. Kehadiran Starlink dikhawatirkan akan mendominasi penetapan harga.

"Starlink kemungkinan besar akan menjadi pemain dominan dalam penetapan harga," kata Jerry, Rabu (19/6/2024). Tidak mengherankan jika asosiasi memandang bahwa layanan internet berbasis satelit Starlink ini dapat berpotensi menimbulkan efek predatori. Menurut Jerry, efek predatori ini terjadi karena Starlink mendapat dukungan dari pemerintah AS, sehingga biaya layanan di negara lain menjadi lebih murah, yang berdampak negatif bagi industri telekomunikasi lokal. "Ini mematikan industri telekomunikasi di negara lain," tambahnya.

Baca ini juga :

» Neuralink Targetkan 1.000 Pasien dengan Implan Chip pada 2026
» Elon Musk Ingin Manusia Punya Kekuatan Super Lewat Neuralink, Chip yang Ditanam Dalam Otak!
» Starlink Mini Resmi Dirilis, Cuma Segede Laptop dan Bisa Colok Powerbank!
» Elon Musk Hapus Tombol Retweet dan Reply di Postingan, Identitas Twitter Mulai Hilang Sepenuhnya?
» Pemerintah Resmi Ga Jadi Blokir X dan Telegram!

Selain itu, APJATEL juga mencatat beberapa negara yang telah membatasi operasi Starlink dengan alasan melindungi perusahaan dalam negeri dan menghindari dominasi vertikal oleh Starlink.

"Starlink adalah salah satu pemain yang sangat vertikal, menguasai dari roket, manufaktur satelit, manufaktur segmen darat, terminal, hingga layanan, sehingga perusahaan di Indonesia sulit menciptakan lapangan bermain yang sama," jelasnya.

Dari segi geografis dan ekonomis, Jerry menyarankan agar layanan Starlink diarahkan untuk melayani daerah 3T (terluar, terdepan, dan terpencil). Menurutnya, langkah ini bertujuan untuk meminimalisir dampak negatif terhadap infrastruktur broadband tetap yang sudah ada, yang seringkali memerlukan biaya dan waktu yang tinggi untuk konektivitas nasional.

Namun demikian, Jerry mengakui bahwa teknologi layanan telekomunikasi satelit seperti Starlink adalah suatu keharusan dan sangat diperlukan untuk percepatan pemerataan layanan internet di Indonesia. "Namun, terkait Starlink, ini berbeda dengan visi dan misi Satria. Karena dimiliki oleh pihak asing, perlu ada kajian khusus dan melibatkan semua pemangku kepentingan di sektor telekomunikasi," tutupnya.



Selain berita utama di atas, KotakGame juga punya video menarik yang bisa kamu tonton di bawah ini.

TAGS

Jika ingin mengirim artikel, kerjasama event dan memasang Iklan (adverstisement) bisa melalui email redaksi[at]kotakgame.com atau Hotline (021) 93027183
rekomendasi terbaru